forty-forth chapt. -
Davendra meletakkan handphone dan seluruh barang yang ia bawa pada meja coklat yang ada dikamarnya, menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah cermin didepannya, ia mengambil botol berisi cairan pembersih wajah beserta kapas untuk membersihkan wajahnya dari hasil polesan makeup yang tadi ia pakai,
Davendra melihat kearah kalender yang sengaja ia pajang untuk menghitung harinya menuju hari besarnya, ya, sudah 3 hari lagi pembukaan agensi yang selama ini ia impikan, dan dalam waktu 3 hari lagi statusnya resmi berubah menjadi seorang pemilik agensi hiburan dinegri ini, sudah bukan lagi hanya sebagai model yang tidak jelas masa depannya, Davendra terkekeh kala ia mengucapkan kalimat itu didalam kepalanya, mengingatkannya pada satu orang wanita yang saat ini ntah ada dimana dan sedang apa pun, dia sudah tidak memperdulikannya.
Pria dengan setelan formal dengan sedikit berantakan dibeberapa sisinya menyisir kebelakang rambutnya yang sudah berantakan, hari ini cukup lelah baginya karena beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencananya. Ia beranjak dari tempatnya menuju kearah dapur, dan membuka sebuah lemari es yang didesign khusus untuk beberapa minuman keras, lemari itu tidak bisa sembarangan dibuka karena harus memberikan kode berupa sidik jari untuk bisa terbuka, ia memilih wine favoritnya untuk menemaninya malam ini,
“Baru pulang lo mas?” ucap laki-laki bersuara bariton, dengan kulit bak porcelain dan rahang tegasnya yang saat ini berjalan mendekat kearahnya, Davendra, ia melihat masnya itu menuangkan sebuah wine kedalam gelas seraya hanya menganggukkan kepalanya, ada yang tidak beres ucapnya dalam kepalanya,
“Gue temenin ya,”
“Kayvan belum pulang?” Tepat saat Ramadella menanyakan itu, suara pintu terbuka berhasil membuatnya mengalihkan pandangan kearah pintu besar tersebut,
“Wess, gak nungguin minumnya,” ucap seseorang dengan pakaian semi-formal mendekat kearah Ramadella dan juga Davendra, Kayvan, baru saja meletakkan tas kerjanya diatas meja makan yang cukup besar itu,
Obrolan demi obrolan keluar tak kala tegukan tegukan dari minuman berwarna kekuningan itu juga masuk kedalam tenggorokan mereka, tawa terkadang menghiasi obrolan mereka kala mereka mengenang beberapa cerita dimasa lalu yang kini sudah mereka anggap lucu, “Tapi Kay, gue penasaran sih, sebenernya lo bisa tau Day itu anaknya om Kevin dari mana?”
Kayvan meneguk minumannya sedikit sebelum ia menceritakan hal yang mungkin memang membuat kedua saudaranya ini cukup penasaran, “Waktu tahun lalu, Tio kan lagi ngeberesin berkas sisa-sisa bokap, terus dia ngeliat foto bokap sama nyokap kan, dan disitu nyokap lagi pake kalung itu, terus tiba tiba Tio nyeletuk nanya, kalungnya sekarang ada dikita semua apa gimana, ya gue jawab dong iya ada dikita tapi kita mutusin buat dipake sama yang paling bungsu kan, terus dia tiba tiba nyeletuk lagi, lah terus kalungnya tante irene dimana, nah dari situ gue mulai mikir iyaya kalungnya tante iren kemana, akhirnya dari situ gue mulai nyuruh tio buat nyari ada apa sama kalungnya tante irene, karena ya emang seinget gue kita gak ngadain lelang apapun buat kalung itu, dan dibarang-barang peninggalan mereka semua juga gak ada kan? Makanya gue langsung suruh nyari deh,” Kayvan menghentikkan ucapannya,
“Terus gimana?” Ramadella kini yang bersuara menanggapi cerita Kayvan,
“Terus lo inget gak dulu gue suka banget meeting di cafenya mas Bagas?” ucapan Kayvan langsung dibalas anggukkan oleh para masnya, “Pas itu ada beberapa waktu gue suka pas-pasan atau bahkan dilayanin sama si Day, dan dia lagi pake kalung itu, ya karena gue tau tuh kalung langka dan gak mungkin ada yang punya, jadi gue nyelidikkin tentang dia dari tahun lalu, sampai akhirnya gue yakin kalo dia bener anak om Kevin, apalagi disemua berkas terdahulunya dia selalu berhubungan sama mas Putra, tante Sarah, yang dimana mereka berdua itu kan berhubungan erat banget sam om Kevin jadi ya gitu, gue bilang sama lo pada yang kemarin,”
Merekapun mengagukkan kepalanya, mereka juga tau kisah pilu keluarga mereka yang harus meregang nyawa hanya karena persaingan bisnis, ya, kecelakaan yang dialami oleh Kevin dan Irene, serta para orang tua mereka merupakan kecelakaan yang direncanakan oleh salah satu oknum, yang saat ini namanya, wujudnya sudah tidak pernah nampak lagi karena kebrutalan seorang Kayvan beserta anak buahnya, bahkan perusahaannya kini sudah seperti ditenggelamkan oleh Ramadella beserta para jajaran dibelakangnya, karena seperti moto keluarga mereka, quoi qu'il arrive, la famille reste numéro un, apapun yang terjadi, keluarga tetap nomor satu, dengan kata lain mereka siap berbuat apapun demi keluarga mereka.