©loeyhunJ4d

An alter universe

forty-forth chapt. -

Davendra meletakkan handphone dan seluruh barang yang ia bawa pada meja coklat yang ada dikamarnya, menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah cermin didepannya, ia mengambil botol berisi cairan pembersih wajah beserta kapas untuk membersihkan wajahnya dari hasil polesan makeup yang tadi ia pakai,

Davendra melihat kearah kalender yang sengaja ia pajang untuk menghitung harinya menuju hari besarnya, ya, sudah 3 hari lagi pembukaan agensi yang selama ini ia impikan, dan dalam waktu 3 hari lagi statusnya resmi berubah menjadi seorang pemilik agensi hiburan dinegri ini, sudah bukan lagi hanya sebagai model yang tidak jelas masa depannya, Davendra terkekeh kala ia mengucapkan kalimat itu didalam kepalanya, mengingatkannya pada satu orang wanita yang saat ini ntah ada dimana dan sedang apa pun, dia sudah tidak memperdulikannya.


Pria dengan setelan formal dengan sedikit berantakan dibeberapa sisinya menyisir kebelakang rambutnya yang sudah berantakan, hari ini cukup lelah baginya karena beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencananya. Ia beranjak dari tempatnya menuju kearah dapur, dan membuka sebuah lemari es yang didesign khusus untuk beberapa minuman keras, lemari itu tidak bisa sembarangan dibuka karena harus memberikan kode berupa sidik jari untuk bisa terbuka, ia memilih wine favoritnya untuk menemaninya malam ini,

“Baru pulang lo mas?” ucap laki-laki bersuara bariton, dengan kulit bak porcelain dan rahang tegasnya yang saat ini berjalan mendekat kearahnya, Davendra, ia melihat masnya itu menuangkan sebuah wine kedalam gelas seraya hanya menganggukkan kepalanya, ada yang tidak beres ucapnya dalam kepalanya,

“Gue temenin ya,”

“Kayvan belum pulang?” Tepat saat Ramadella menanyakan itu, suara pintu terbuka berhasil membuatnya mengalihkan pandangan kearah pintu besar tersebut,

“Wess, gak nungguin minumnya,” ucap seseorang dengan pakaian semi-formal mendekat kearah Ramadella dan juga Davendra, Kayvan, baru saja meletakkan tas kerjanya diatas meja makan yang cukup besar itu,

Obrolan demi obrolan keluar tak kala tegukan tegukan dari minuman berwarna kekuningan itu juga masuk kedalam tenggorokan mereka, tawa terkadang menghiasi obrolan mereka kala mereka mengenang beberapa cerita dimasa lalu yang kini sudah mereka anggap lucu, “Tapi Kay, gue penasaran sih, sebenernya lo bisa tau Day itu anaknya om Kevin dari mana?”

Kayvan meneguk minumannya sedikit sebelum ia menceritakan hal yang mungkin memang membuat kedua saudaranya ini cukup penasaran, “Waktu tahun lalu, Tio kan lagi ngeberesin berkas sisa-sisa bokap, terus dia ngeliat foto bokap sama nyokap kan, dan disitu nyokap lagi pake kalung itu, terus tiba tiba Tio nyeletuk nanya, kalungnya sekarang ada dikita semua apa gimana, ya gue jawab dong iya ada dikita tapi kita mutusin buat dipake sama yang paling bungsu kan, terus dia tiba tiba nyeletuk lagi, lah terus kalungnya tante irene dimana, nah dari situ gue mulai mikir iyaya kalungnya tante iren kemana, akhirnya dari situ gue mulai nyuruh tio buat nyari ada apa sama kalungnya tante irene, karena ya emang seinget gue kita gak ngadain lelang apapun buat kalung itu, dan dibarang-barang peninggalan mereka semua juga gak ada kan? Makanya gue langsung suruh nyari deh,” Kayvan menghentikkan ucapannya,

“Terus gimana?” Ramadella kini yang bersuara menanggapi cerita Kayvan,

“Terus lo inget gak dulu gue suka banget meeting di cafenya mas Bagas?” ucapan Kayvan langsung dibalas anggukkan oleh para masnya, “Pas itu ada beberapa waktu gue suka pas-pasan atau bahkan dilayanin sama si Day, dan dia lagi pake kalung itu, ya karena gue tau tuh kalung langka dan gak mungkin ada yang punya, jadi gue nyelidikkin tentang dia dari tahun lalu, sampai akhirnya gue yakin kalo dia bener anak om Kevin, apalagi disemua berkas terdahulunya dia selalu berhubungan sama mas Putra, tante Sarah, yang dimana mereka berdua itu kan berhubungan erat banget sam om Kevin jadi ya gitu, gue bilang sama lo pada yang kemarin,”

Merekapun mengagukkan kepalanya, mereka juga tau kisah pilu keluarga mereka yang harus meregang nyawa hanya karena persaingan bisnis, ya, kecelakaan yang dialami oleh Kevin dan Irene, serta para orang tua mereka merupakan kecelakaan yang direncanakan oleh salah satu oknum, yang saat ini namanya, wujudnya sudah tidak pernah nampak lagi karena kebrutalan seorang Kayvan beserta anak buahnya, bahkan perusahaannya kini sudah seperti ditenggelamkan oleh Ramadella beserta para jajaran dibelakangnya, karena seperti moto keluarga mereka, quoi qu'il arrive, la famille reste numéro un, apapun yang terjadi, keluarga tetap nomor satu, dengan kata lain mereka siap berbuat apapun demi keluarga mereka.

forty-third chapt. -

Gadis dengan surai hitam, bernetra hitam pekat itu telah siap dengan seragam yang dilengkapi blazer abu-abunya, tangannya dengan terampil mengikat surai hitamnya dengan cepat, melihat sekali lagi kearah cermin panjang dengan bayangan dirinya yang terpatri disana, merapikan dan mengecek sekali lagi penampilannya hari ini,

Tok.. Tok.. Tok...

Suara ketukan menghancurkan lamunannya yang sedang memperhatikan penampilannya saat ini, yang ia baru sadari sudah sangat berbeda dengan dirinya beberapa bulan sebelumnya, ia menggelengkan kepalanya sebelum beranjak menuju pintu putih yang ada didalam kamarnya itu,

Sosok laki-laki dengan tinggi yang sangat melampauinya berdiri dengan seragam yang serupa dengannya, “Bagi parfum dong, parfum gue tadi malem pecah semua pas lagi dikejar-kejar Anesh,” Tak lama setelahnya iapun langsung masuk tanpa permisi, Ailesh Reka Kentara, yang memang sudah terbiasa masuk kedalam kamar yang didominasi dengan cat putih, dan didesign sesempurna mungkin oleh sang designer ruangannya, yap, ruangan itu hasil karya terbaik seorang Kegan Ayundra Kentara, seorang arsitektur yang merangkap design interior keluarga Kentara itu.

“ALESH!! LO SALAH NGAMBIL BLAZER ANJIR!” Tanpa Dayana mengalihkan pandangannya kearah sumber suara itu, seseorang dengan perawakan yang hampir sama dengan laki-laki yang sedang memilih parfum dimeja rias Dayana sudah masuk tanpa permisi, “Ini ah, digue gombrong banget gak enak,”

Ketukan pintu sekali lagi terdengar, membuat ketiganya langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu tersebut, “Aden, Non, udah ditunggu hayu kebawah,” ucap seorang pekerja dengan pakaian daster ala ibu-ibu rumahan, memang dirumah ini tidak ada pakaian khusus untuk para pekerja seperti dirumah-rumah mewah yang ada disinetron-sinetron atau film-film itu,

“Iya bi sebentar, masih milih parfum,”

“Lo mau pake parfum Dayana?”

“IYA! PARFUM GUE KAN KEMARIN 7 BOTOL JATOH SEMUA GARA GARA LEMPARAN GULING LO!”

“YA LO LAGIAN NGESELIN MAKAN CRACKERS DIKASUR GUE,”

Dayana menggelengkan kepalanya, sudah beberapa bulan ini, ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini, yang baru saja ia lihat itu, “BISA GAK GAUSAH PAKE TERIAK?” ucapnya dengan suara yang tak kalah tinggi untuk menghentikkan kedua saudaranya itu, dan langsung meninggalkan mereka yang masih berdebat perihal masalah diantara mereka tadi malam.


“Maaasss, ayolah boleh ya please please, ini udah hampir mau dua bulan loh Deo sembuhnya,” suara rayuan Basudeo sekali lagi terdengar ditengah beberapa saudaranya yang sedang menyantap sarapan mereka, ucapan Basudeo dengan sangat cepat langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Ramadella, yang memang masih duduk ditengah-tengah meja makan besar yang Kentara Bersaudara tempati sekarang, sedangkan Davendra dan Kayvan sudah berangkat sedari pagi buta untuk melakukan aktivitas mereka,

“Enggak Basudeo, sekali enggak ya enggak,” ucapan Ramadella terdengar tegas dan tidak bisa dibantahkan, membuat Basudeo hanya bisa berdecak dengan sebal dibangkunya itu, kini para saudaranya yang tersisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kehebohan pagi ini,

“Aku mau ke cafe ya nanti,” ucapan Dayana langsung mengundang tatapan tajam dari semua masnya yang ada dimeja makan itu, Ramadella, Byantara, Kegan, Domicia, Arvel, Aidan, Aydan, Edhan, Affandra, dan juga Basudeo langsung mengalihkan pandangannya tepat kesatu titik, “Mau nengok doang, lagian kan sama Anesh sama Alesh juga, lagian disana kan ada mas Bagas mas pasti,” ucap Dayana meyakinkan para masnya itu, sedangkan Avanesh dan Ailesh yang namanya disebutpun langsung menatap tajam ke arah Dayana juga,

“Berarti nanti dijemput sama mas, bukan sama pak Joko,” ucap tegas seorang Kegan kepada Dayana, yang langsung dibalas anggukkan oleh Ramadella yang mengartikan setuju dengan ucapan Kegan itu,

Dan lagi, hari ini, Dayana kembali menghela napasnya karena perlakuan para saudaranya itu yang tidak habis-habisnya menganggap dirinya bak pajangan porcelain yang sangat rapuh.

forty-second chapt. -

Anak laki-laki dengan celana seragam berwarna coklat muda, dan dipadukan dengan hoodie maroon yang menutup seragam bagian atasnya terlihat gelisah ditempatnya, bagaimana tidak beberapa pasang mata kini tengah menatapnya tajam yang sedang berdiskusi dengan Affandra, dan Aydan tentang ekstrakurikuler yang dipimpin Aydan itu,

Basudeo terkekeh sedikit ditempatnya, melihat para masnya itu tidak habisnya menatap kearah temannya itu, “Kay, mending lo ajak pulang aja deh si Reyga,” ucap Basudeo kepada Kayana yang sedang mengupas jeruk untuk Dayana.

Tadi memang sehabis bel pulang berbunyi, Reyga, Kayana dan juga Fabian ikut dengan Aydan, Edhan, Ailesh dan Avanesh menuju rumah sakit, tetapi sayangnya Fabian memang harus pulang terlebih dahulu,

“Gimana mau ngajak pulang, lo gak liat itu mereka lagi serius banget,” ucap Kayana kepada Basudeo,

“Reyga, gimana kabar pak Surya Ardalan?” ucap Ramadella tiba-tiba memutus rantai keheningan diruangan ini,

“Opa baik mas,” Reyga mengucapkannya berusaha setenang mungkin,

Byantara membuka pintu kayu besar yang menjadi pintu utama diruangan itu, “Makasih ya mas,” ucapnya kesalah satu penjaga yang mengantarkan satu kerdus berisi minuman itu, “Nih Rey, diminum”

“Makasih mas,” Reyga sedikit menundukkan kepalanya kala Byantara memberikan minuman kepadanya,

“Masih suka main golf dia Rey?” ucap Ramadella kepada Reyga yang langsung dibalas anggukkan kepala,

“Masih mas, opa masih rajin main golf sama om Vian, papanya Kayana,” Ramadella mengangukkan kepalanya kala menerima jawaban seorang Reyga,

“Reyga aksel ya SMPnya? SMA juga ikut test aksel kemarin?” Semua mata benar-benar langsung tertuju teralihkan kearah suara yang baru saja mengucapkan kalimat tanya itu, Kayvan, dengan wajah tak bersalahnya seperti bertanya dengan matanya kearah muka-muka para saudaranya yang melihatnya dengan tatapan sedikit terkejut dan bingung, Kayvan tidak bersalah, pasalnya memang bukan dia yang mencari semua hal detail tentang Reyga, bahkan makanan yang disuka, dan tidak disuka, atau tempat kopi favoritenya Reyga saja ada didaftar yang diberikan Aidan tadi,

“Ah iya mas, SMP kebetulan aksel, terus SMA kemarin sih ikut test aksel juga,”

Kayvan menganggukkan kepalanya, membaca keterkejutan Reyga diwajahnya, “Affandra pernah cerita soalnya kalu kamu tuh aksel gitu,”

Affandra dan Aydan saling melempar tatap kala mendengar itu, Edhan dan Basudeopun juga melakukan hal yang sama, pasalnya diantara mereka belum ada yang sama sekali menceritakan tentang hal itu,

“Mau kuliah dimana nanti Rey?” ucap Davendra tiba-tiba dengan langsung mengalihkan tatapannya dari majalah yang menampilkan wajahnya disampulnya itu kearah Reyga yang saat ini mungkin sudah berkeringat,

“Mau ngambil jurusan hubungan international mas,”

“Dalam? Apa luar?” ucapan Davendra sukses membuat sebuah tanya besar ada pada wajah Reyga, “Maksudnya kuliahnya mau didalam negeri aja apa diluar negeri,”

“Oh belum tau sih mas, tapi mau didalam aja biar nemenin mamih juga,” ucapan Reyga terdengar ragu, tetapi sukses membuat Davendra menganggukkan kepalanya,

“Kamu anak tunggal ya Rey?” ucap Kegan tiba-tiba, padahal ia sudah tau semua data diri Reyga tapi ia melakukannya hanya untuk menambah perasaan penekanan pada Reyga,

Reyga menggelengkan kepalanya, “Ada satu abang cowo mas, anaknya bunda,” Reyga segera tersadar akan ucapannya, seharusnya ia tidak usah membicarakan itu,

Dayana yang mendengar itu langsung sedikit terkejut, dan mengalihkan pandangannya kearah Kayana yang hanya bisa mengangkat bahunya, menjawab wajah bertanya dari Dayana,

Sore itu dihabiskan oleh beberapa mas Dayana yang bertanya tentang Reyga dengan detail, membuat Dayana terlihat heran akan tingkah mereka,

Ailesh yang membaca raut wajah Dayana langsung mendekatkan dirinya kearah perempuan itu, “Gue bilang juga apa, Reyga suka sama lo. Buktinya kodam harimau para mas bentar lagi keluar nerkam nih,” Ailesh mengakhiri ucapannya dengan sedikit terkekeh

forty-first chapt. -

Aidan memperhatikan kedua saudaranya yang berada disamping dan hadapannya, ia sangat paham kedua saudaranya ini sedang mengirimkan chat satu sama lainnya tanpa sepengetahuannya, dilihat dari keduanya yang terkadang saling bertukar pandang,

“MAS!!” Aidan berteriak mengagetkan semua orang yang sedang berada diruangan itu, Kegan dan Byantara yang sedang bersantai langsung mengalihkan pandangannya ke arah Aidan,

Para mas tertua mereka memang masih bekerja, sehingga yang tersisa kini menjadi tanggung jawab dari Byantara dan juga Kegan,

“Gue ke rooftop yaa, asem,” seraya memeragakan seakan dia sedang merokok, “Kok lu berdua diem? Ayo dih!”

“Gue nyusul mau beli minum dulu dikantin,” Domicia mengucapkannya seraya mengambil dompet kulit berwarna coklatnya,

“Ayo Vel,”

“Sabar Toilet dulu,” jawab Arvel dan menghilang dibalik pintu kayu didalam ruangan itu,

Setelah beberapa menit berselang mereka bertiga telah sampai didepan pintu besi yang langsung mengarahkan mereka kepada rooftop rumah sakit yang memang menjadi tempat bersantai beberapa orang itu,

Berjajar, seraya melihat kearah hamparan gedung yang dihiasi langit malam tanpa bintang itu, Aidan menghela napasnya, seraya menghisap lagi batang tembakau yang diapit oleh kedua jarinya itu,

“Gue kayanya bakal mundur,” ucapan Aidan langsung membuat kedua saudaranya mengalihkan pandangannya kearah dirinya dengan tatapan bertanya, “Saras,”

“HAH?!”

“LU GILA YA?”

Aidan terkekeh kala mendengar semua reaksi dari kedua saudaranya itu, “Emang lo gapapa Vel kalau gue sama Saras?” ucapan Aidan sukses membuat sang empu yang disebut namanya oleh Aidan merasa gelisah,

“Apaan dah? Gue kan sama Saras temen Ay,”

Aidan langsung menggerakkan tangannya yang memegang rokoknya itu kekanan dan kekiri, tanda menolak ucapan Arvel tadi, “Kita udah kenal seumur hidup gue, serumah 10 tahun, lo pikir gue bisa gitu aja diboongin?”

Arvel menolehkan pandangannya kearah kembarannya itu, yang memang saat ini berada disamping kirinya, sedangkan Aidan disamping kanannya, “Jangan tanya gue,” Domicia meraih telepon genggamnya yang bergetar kala itu, dan langsung memfokuskan dirinya pada telepon genggamnya,

Arvel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menetralisirkan suaranya dengan deheman beberapa kali, “Gue gak masalah Ay, seriusan deh, ya emang sih suka, dari maba, tapi kan Sarasnya sukanya sama lu, terus juga lu suka kan sama saras? Selama you two have an mutual feeling, so why not? gausah mikirin gue, as long as you promise to make her happy, i'm totally fine with that, lagian jodoh kan gak ada yang tau, toh gue masih bisa kok cari yang lain selain Saras,” Arvel mengucapkannya panjang lebar dengan jantungnya yang sedikit berdegup, ntahlah apa yang membuatnya gugup mungkin karena ditebak dengan benar oleh seorang Aidan,

Aidan terkekeh, “Gak tau lah liat nanti,”

“Tapi izinin gue ngegalauin dia ya, Ay,”

“Anjir lu mau galau aja pake izin dulu sama gue, emang gue siape lu pikir,” Aidan membuang puntung rokoknya kedalam tempat sampah yang berada disampingnya,

Dan malam itu mereka menghabiskannya dengan menceritakan semua keluhannya satu sama lain.


“Fandd,” Basudeo mengucapkannya dengan nada jengkelnya itu, “Lu bisa gak sih tidur? Ini udah 3 hari lu tidur disamping gue, tapi selalu ngeliatin gue mulu sampe gue tidur, gue masih idup Fand kalo lo takut mah,” ucapnya lagi dengan masih memejamkan matanya,

Memang setelah Basudeo sadar dari tidurnya yang panjang, seorang Affandra memohon kepadanya untuk ia bisa tidur disamping dalam satu tempat tidur yang sama, untungnya tempat tidur yang disediakan oleh rumah sakit ini memang terbilang cukup luas, namun tetap saja seluas-luasnya tempat tidur rumah sakit, jika sedang dalam keadaan tidak baik tidur berdua dalam satu tempat tidur bukanlah hal yang baik,

“Siapa juga yang ngeliatin lo, orang gue lagi main hp,” Affandra mengucapkannya seraya memalingkan pandangannya kearah samping tempat tidur Basudeo, tempat dimana Dayana telah terlelap itu,

“Gausah sok enggak enggak deh, gue tau Fand, feeling gue kuat,” ucapan Basudeo langsung dibalas decakan oleh Affandra,

“Alesh, lo bisa gak sih tidur?! Gue masih idup lagian ini udah beberapa hari astaga,” ucapan Dayana yang lumayan keras langsung membuat beberapa masnya terbangun, kecuali Avanesh, Aidan, Edhan, Arvel dan Kegan.

“Alesh tidur disini aja sini, disini masih kosong,” Aydan menunjuk tempatnya yang memang berada dipojok sedangkan disamping kanannya Avanesh telah tertidur sedari tadi,

Jika Affand memilih satu tempat tidur bersama Basudeo, sedangkan Ailesh memilih untuk tidur disofa yang berada disamping tempat tidur Dayana, “Ish elu mah berisik,”

“Udah Alesh tidur sana samping mas Aydan, biar disitu mas aja, besok kan udah mulai sekolah,”

“Oh iya sekolah,” Affandra tiba-tiba bersuara kala mengingat besok dirinya kembali disibukkan dengan kegiatan sekolahnya, walaupun selama hampir dua minggu ini mereka tidak bersekolah karena ntahlah menurut mas tertuanya mereka masih dalam tahap shock pasca kedua saudaranya terkena musibah kecelakaan, tetapi selama hampir tidak bersekolah tatap muka mereka masih menerima materi hingga tugas yang mereka dapatkan langsung dari para gurunya,

“Cyatt. Sekolah, byebye,” Basudeo meledek Affandra dengan masih memejamkan matanya itu, berusaha untuk tertidur

fourtieth chapt. -

Basudeo mengerjapkan matanya beberapa kali guna lebih membiasakan netranya menerima cahaya yang ada, “Kondisinya baik, ini tuh kaya keajaiban dari tuhan, gue sendiri awalnya ragu sama Deo sebenernya, tapi kayanya emang dasarnya anaknya dilimpahin sama keberuntungan jadi sekarang dia oke,” ucap Alkarel Sena, dokter yang menangani Basudeo dan Dayana, sekaligus sahabat dekat seorang Ramadella,

“Thank Rel,” Ramadella mengucapkannya seraya menjabat tangan Alkarel dengan sedikit membungkuk membuat Alkarel langsung menariknya dan megakkan sahabatnya itu

“Apaan sih Ram kaya sama siapa, santai aja, Deo sama Day kan juga udah gue anggep adek gue sendiri,”

Hening menguasai ruangan ini, masih tidak percaya bahwa seluruh kesakitan mereka seminggu kebelakang telah berakhir, kini kedua orang yang selama ini menghidupkan suasana telah kembali,

Kayvan mendekati Basudeo, mendekatkan kepala Basudeo dengan dada bidangnya, dan merangkul pundaknya dengan erat, seraya mencium puncak kepala Basudeo dan mengusap punggung adik bungsunya itu tanpa sepatah katapun, Basudeo masih terdiam, ia masih memproses semuanya.

Affandra, Edhan dan Aydan mengalihkan pandangannya kearah lain, tak kuasa menahan tangisnya lagi dan kini semua derai air mata itupun juga ikut turun,

Kegan, dan Domicia yang melihat itu langsung menghampiri mereka satu demi satu, Kegan memeluk Affandra dengan erat saling menumpahkan segala kekhawatiran mereka yang selama ini mereka tanggung, sedangkan Domicia langsung merangkul Edhan dan Aydan secara bersamaan, membuat mereka langsung terisak dikedua bahu Domicia itu,

Sedangkan Arvel? Ia sudah terlebih dahulu mengambil alih Aidan, yang kini sudah terisak sedikit keras pada pundak kokoh Arvel, dengan memeluk erat pinggang Arvel seperti menyalurkan semua kefrustasiannya, selama seminggu ini Aidan memang hanya bisa berdiam diri, benar-benar seperti bukan Aidan yang mereka kenal dengan banyak bicara dan banyak bercandanya, ia hanya diam atau terkadang sibuk menatap handphonenya, yang tidak saudara-saudaranya tau dalam seminggu ini Aidan berperang sendiri oleh dirinya, menyibukkan seluruh penglihatannya dengan beberapa video agar pikirannya juga tidak terlalu berisik,

Satu persatu orang menghampiri Basudeo setelah Kayvan selesai melampiaskan perasaan bangganya, “Jangan tinggalin gue sendirian,” Affandra menatap tangan Basudeo yang masih tertusuk jarum infus tersebut,

Basudeo yang setelah beberapa menit telah kembali berdecak kepadanya, “Gak akan tega gue,” ucapannya sukses membuat seorang Affandra semakin menundukkan kepalanya, dirasakannya tangan yang saat ini digenggam oleh Affandra sedikit terkena tetesan air, “Yaelah jangan nangis lagi dong,” ucapan Basudeo sontak membuat Affandra langsung menghapus air matanya,

“Enggak gue gak nangisin lu, ye geer,” ucapan Affandra langsung dibalas denga tawa bersamaan seorang Basudeo dengan beberapa saudaranya itu,

“Samanya kaya abangnya gengsian banget lu,” Arvel yang mengucapkan itu langsung dibalas jitakkan dikepalanya oleh Kegan,

Aydan mendekati Basudeo dengan perlahan, “Ngeselin lo,” ucapannya membuat Basudeo tertawa singkat pula,

“Maksud gue tempat gue disini tuh, ya disini, ditengah-tengah kalian,” Basudeo tersenyum singkat kepada Aydan yang langsung dibalas anggukan oleh orang yang didepannya, “Nurutin apapun kemauan gue kan?” Basudeo mengucapkannya dengan nada meledeknya membuat seorang Aydan memutar kedua bola matanya jengkel,

Ailesh dan Avanesh masih terdiam berlindung dibalik punggung seorang Davendra, mata mereka berdua benar benar bengkak, tangisannya sampai saat ini masih terdengar, mereka bahagia, sangat bahagia,

“Yo, adek adek lo tuh,” ucap Edhan yang baru saja menjauhkan dirinya dari Basudeo, menunjuk orang yang dibalik punggung Davendra dengan dagunya,

“Anesh sama Alesh masih nangis?” Tidak ada sautan dari keduanya membuat Basudeo hanya tertawa dan mengalihkan pandangannya ke seseorang yang sedari tadi hanya menatapnya, “Hai cantik, You're fine?” pertanyaan Basudeo sukses membuat isakan Dayana akhirnya keluar, semua saudaranya yang melihat itu langsung terkejut pasalnya sedari Basudeo sadar, Dayana memang hanya terdiam saja,

Ramadella langsung menghampiri Dayana, dan memeluknya erat, “Sstt it's okay, it's okay, i'm here, i'm here, gapapa hey mas Deonya kan udah gapapa tuh liat,” Ramadella mengucapkannya seraya mengusap surai hitam Dayana dan mengecup puncak kepalanya,

Basudeo hanya tersenyum melihat semua saudaranya yang ia tau semuanya menitikkan air matanya hanya karen dia telah kembali, keputusannya tepat, untuk kembali ketengah-tengah mereka lagi.

chapt. thirty-ninth -

Matanya mengerjap beberapa kali, membiasakan cahaya masuk kedalam netra hitam kecoklatannya, mengusap beberapa kali kedua kelopak mata yang masih ia biasakan untuk terbuka, “Turun woy,” ucap suara bariton dari bangku depan, yang membuatnya merasa bingung kini ia berada didalam sebuah mobil yang ia sangat kenali, setelah sedikit lebih tersadar, ia alihkan langsung pandangannya kearah luar jendela yang berada disampingnya, hamparan pemakaman terdapat disana, ia mengecek dan memastikan pandangannya beberapa kali, bertanya tanya mengapa ia bisa ada disini,

Ketika ia telah turun dan berjalan singkat menjauh dari mobil yang tadi ia tumpangi, pundak kokohnya tiba tiba terasa berat, dialihkannya pandangannya kearah pemilik lengan yang berada diatas bahunya itu, “Deo?” ucapnya lirih, sang empu yang dipanggil hanya tersenyum dengan sedikit menaikkan dagunya bersamaan dengan kedua alisnya itu,

“Yo, kok kita disin-” ucapannya teralihkan dengan pandangan kesekelilingnya, tiba-tiba tubuhnya membeku, raganya seolah ditarik kedalam kenangan beberapa tahun lampau, tepatnya sepuluh tahun lalu kala dunianya dan dunia para saudaranya hancur bersamaan,

“Yo kok bisa,” ucapnya lemah, ia masih mematung, melihat kearah depannya sudah banyak orang yang berdiri sejajar seraya memegang dan merangkul pundak satu sama lain, bertujuan untuk menguatkan, kejadian didepannya benar-benar seperti sepuluh tahun lalu, hanya bedanya penampilan para saudaranya telah berubah lebih dewasa,

“Kenapa?” Aydan menolehkan pandangannya kearah seseorang yang sedari tadi hanya diam saja, “Yo, kenapa disini?” ucapnya sekali lagi karena ia ingin memastikan apa yang ada dipikirannya bertolak belakang dengan kenyataan yang ada, tetapi sayangnya seseorang yang berada disampingnya itu hanya tersenyum singkat,

“Tempat gue disini Ay,” bagai tersambar petir ucapan singkat itu sukses membuat seorang Aydan lemah,

“Enggak enggak, lo bercanda anjing, gak ada ya Yo, gue tampolin lu sumpah, gak ada anjir cerita kaya gitu,” ucap Aydan dengan nafasnya yang memburu, memegang kedua lengan bagian atas laki-laki yang kini telah menghadap kearahnya, “Yo please, ayo balik, gue janji gue bakal lakuin apapun terserah lo, tapi please ayo balik yo gue mohon, gue mau Deo gue pulang,” Aydan terus mencerca orang didepannya dengan ucapan memohonnya,

Tiba-tiba hentakan keras membuatnya tersadar, peluh keringat membasahi sekujur tubuh dan dahinya, “Ay! Aydan! sadar anjir woy woy!!” Edhan menepuk berkali kali pundak kembarannya itu,

Pandangan Aydan masih kosong, tetapi ia masih bisa melihat beberapa orang didepannya berlalu lalang dengan tergesa, “Enggak enggak Deo anjir enggak,” Aydan yang ingin segera bangun dari tempatnya yang kini terduduk disebuah sofa, langsung ditahan oleh seseorang yang tiba tiba langsung menabrak tubuhnya dan memeluknya dengan erat, wangi woody bercampur musk tercium masuk kedalam indra penciumannya, ia sangat hapal dengan wangi ini,

“Makasih Ay, makasih, sumpah makasih banget,” ucapan yang sedikit tidak jelas tetapi masih bisa ia tangkap dengan jelas karena jarak keduanya yang terkikis sempit, wajah seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuhnya itupun langsung menjauh, dengan mata yang sangat sembab akibat tangisannya, dengan bibir yang sedikit bergetar,

Aydan menengokkan kepalanya kearah Edhan, dengan wajah bertanya meminta penjelasan, “Deo balik Ay,”

ucapan singkat itu, berhasil membuat sekujur tubuh Aydan melemas, air matanya yang tidak ia rencanakan keluar begitu deras, dirinya menundukkan kepalanya dengan isakan yang begitu keras, pikiran hal terburuk yang tadi ia pikirkan seketika menyeruak begitu saja kala ia mendengar ucapan singkat dari kembarannya itu.

Basudeo mereka telah kembali, bersama dengan pusat semesta mereka yang kembali menyala juga.

chapt. thirty-eight - tw // car accident -

Masih teringat jelas dimemorinya bagaimana saat yang paling ia benci saat ini terjadi, masih teringat jelas bagaimana sosok yang saat ini masih berbaring dengan mata indah yang tertutupnya merangkum tubuhnya didalam dekapan laki-laki itu dengan sangat erat, membentenginya dari segala hal yang dapat membuatnya terluka, mengorbankan tubuhnya hancur terkena serpihan kaca dan juga hantaman keras tembok pembatas yang ia ingat menabrak mobil yang malam itu ia tumpangi,

Dayana memejamkan matanya untuk kesekian kalinya, air matanya kini lolos kembali seperti beberapa menit lalu ketika dirinya telah kembali ke kenyataan lagi bersama para saudaranya yang menunggunya itu, “Hei, kok nangis lagi,” ucap Byantara yang sedari tadi menyuapinya dengan bubur itu, “It's not your fault Day, itu pilihannya mas Deo, dan kalau kamu nangis gini malah bikin mas Deo sedih loh,” ucap Byantara lagi seraya menyuapi adik perempuannya itu bubur yang ada didepannya,

“ALESH DATANGGG!!!” seruan heboh dari arah pintu membuat beberapa orang yang berada diruangan itu mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka lebar,

Aydan, Edhan dan Affandra yang sedang berkutat dengan tugas sekolahnya bersama dengan Domicia dan Arvel yang mendampingi mereka, Aidan yang memandang fokus ke arah smartphonenya dengan airpod yang terpasang ditelinganya, sedangkan Kayvan dan Rama yang sedang mengobrol serius dipojok sana bersama seseorang disambungan telepon,

Davendra? Ia yang menemani kedua kembar kecil keluarga Kentara untuk pergi keluar tadi, “Day day day, liat!! Gue beli bubur juga sama Anesh, jadi lo makan bu- yah kok bubur lo udah abis sih?!”

Davendra datang mendekat seraya mengelus puncak kepala Ailesh, “ Kamu kelamaan searching bubur enaknya sih,”

“Tau, coba aja beli yang pas dari gerobak pertama pasti udah makan bareng sama Dayana,” Avanesh mengambil alih kantong plastik bening yang sedari tadi dibawa Ailesh, memindahkan bubur yang berada disterofoam itu kedalam mangkuk yang memang tersedia diruangan yang merek tempati selama seminggu ini,

Dayana hanya bisa menanggapi celotehan asal itu dengan senyuman singkat dengan masih menatap getir orang orang yang berusaha mengajaknya bicara, “Mas ambilin minumnya ya,” Byantara mengelus lembut puncak surai hitam milik Dayana seraya tersenyum juga,

“Wah hebat makannya abis yaa,” ucap Davendra membuat seisi ruangan itupun ikut menyautinya dengan tepuk tangan, persis seperti menyoraki seorang anak kecil yang menghabiskan makanannya,

Dayana kembali meringsut masuk kedalam selimutnya, menenggelamkan dirinya kembali seraya menatap kearah depannya yang menyajikan pemandangan lampu-lampu gedung yang memang terlihat dari kaca didepannya, dengan masih enggan untuk mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, dan tanpa ia sadari banyak pasang mata yang berharap cemas kepadanya.

chapt. thirty-seventh -

Edhan menyalakan rokok yang telah ia apit dengan kedua jarinya sedari tadi, sedangkan Aydan hanya menatap langit sore yang lambat laun menguning itu,

“Biasanya rokok gue diambil asal nih,” Edhan mengucapkannya seraya membuang kepulan asap yang sedikit mengandung bebannya itu saat ini,

Affandra tertawa singkat, ia sangat paham siapa yang Edhan maksudkan, “Iya terus abis itu lu berdua sungut-sungutan,” Aydhan, suara Aydhan yang menanggapi ucapan asal Edhan,

Affandra hanya bisa merespon senyumnya yang terlihat dipaksakan, “Seminggu loh tanpa dia,”

“Lagi asik nih dia main-main sama eyang kayanya,” Affandra menepuk pundak Aydan yang disampingnya dengan asal setelah mendengar ucapan dari Aydan tadi,

Affandra berdecak singkat, “Yo jangan kelamaan main disananya, seminggu gak ada lo kaya kuah indomienya Aydan,”

“Pucet?” Edhan bertanya kearah Affandra, yang langsung dibalas oleh gelengan kepala sang empunya,

“Hambar,”

“YAELAHH SA AE LO AH, DANGDUT!” ucap Aydan sedikit meninggi langsung dibalas tawa oleh kedua saudaranya disana,

“Maafin gue ya Fand, belum bisa bawa Deo,”

Affandra menggelengkan kepalanya kala Aydan mengucapkan kalimat pedihnya tadi seraya menatap kearah gedung tinggi didepannya yang dihiasi oleh langit kekuningan kotanya itu, “Santai. Gue tau kok dia bakal balik, gak mungkin dia ninggalin gue sendirian lama-lama,” ucap Affandra seraya tersenyum, “Tapi Ay, lo kok bisa kaya gitu sih,” Affandra mengucapkannya dengan penuh keheranan dinada suaranya

Aydan mengangkat kedua bahunya, “Gue gak ngerti, semenjak yang 3 tahun kita tinggal bareng, gue jadi sering mimpiin kejadian yang bakal kejadian sama kita, bahkan yang terakhir itu yang mas Cia drop apa yang masalah Deo mabok itu ya, pokoknya gitu deh. Terus sama tadi, yang masalah Day. Itu aja gue shock bakal gitu,”

“Tapi gue tau itu kelakuan lo, Ay,” ucap Edhan seraya membuang kepulan asapnya lagi, “Gue tau itu kerjaan lo,”

“Lo tau darimana dah?” tanya Affandra kepada saudaranya itu,

Edhan mengangkat bahunya, “Ntah, feeling aja” ucapnya lagi, yang hanya dibalas anggukan oleh kedua saudaranya,

Masing – masing dari mereka tau, bahwa kekuatan perasaan antar mereka dengan kembaran mereka satu sama lain tidak bisa dipungkiri pasti akan terasa sangat kuat dalam beberapa waktu, dan biasanya apa yang mereka rasakan akan selalu tepat sasaran, seperti saat Affandra yang tiba-tiba gelisah ntah kenapa pada malam ketika Basudeo menabrakkan dirinya sendiri.

chapt. thirty-six -

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari, suasana ruangan besar yang dipenuhi beberapa orang itu tampak tenang dan sunyi, hanya tersisa suara jam dinding yang berdetak dan suara monitor dari mesin kotak yang merekam jejak detak jantung kedua sosok yang sedang bertarung dengan hidupnya,

Kayvan mengalihkan pandangannya dari kedua sosok adiknya yang sedang berjuang dengan bantuan alat bantu pernapasan atau yang biasa disebut ventilator itu, “Lu tidur gih, udah jam 1. Udah seminggu ini lu kalau malem gak tidur Kay, Gak baik kaya gitu tuh,”

“Gapapa mas, gue oke kok,”

Ramadella menghela napasnya, “Ada gue, Daven sama Kegan kok yang melek sekarang, lu tidur aja,” ucapnya kepada Kayvan, tetapi Kayvan masih dengan pendiriannya, dan segera menggeleng,

“Gue mau jadi orang pertama mas yang bilang hebat ke Deo,” ucap Kayvan menatap nanar kearah adik bungsunya itu,

“Kalau dia sadar, gue yang jamin lo bakal jadi orang pertama yang ngobrol sama dia,”

“Deo juga gak bakalan suka mas kalo lo ngorbanin diri lo sampe segininya,” Kegan kini bersuara, ikut membantu meyakinkan kakak tertuanya itu. Ia sangat tau jika kakak tertuanya ini sama seperti Davendra dan Ramadella, keras kepala.

Kayvan akhirnya menganggukkan kepalanya, melihat sekali lagi kearah Ramadella dan Davendra, juga Kegan yang langsung dibalas anggukkan oleh mereka bertiga,

Memang selama seminggu penuh ini dia hanya bisa tertidur disiang hari, itupun ketika semua saudaranya telah benar-benar terjaga, dan itupun tidak lebih dari 2 jam, “Cepet bangun ya, jagoan.” Kayvan mengecup puncak kepala laki-laki hebat yang menyandang status adik bungsunya itu, “Cantik jangan lama lama tidurnya ya, masnya kangen,” Kayvan melakukan hal yang sama pula kepada perempuan cantik bersurai hitam yang memang bersebelahan dengan tempat tidur adik bungsunya itu,

Ramadella menghampiri tempat tidur yang baru saja Kayvan singgahi itu, mengambil duduk disampingnya, lalu mengenggam satu kepalan tangannya dengan kedua tangannya yang ditautkan, “Hai,” ucapan singkat nan berat ia lontarkan kepada perempuan bersurai hitam yang sedang terpenjam itu, Dayana. Ramadella tersenyum singkat, lalu mengelus lembut surai milik adik perempuannya itu, “Lagi asik ya ketemu sama mamah papah disana? Atau lagi ngobrol sama eyang? Gapapa ngobrol sebentar sama mereka, tapi abis itu balik lagi kesini, mas mohon. Cantik, pusat semestanya mas, pulang ya, jangan lama lama tidurnya,” ucap Ramadella dengan getaran yang ada pada setiap kalimatnya, air mata yang ia tahan selama ini akhirnya luruh juga, ia tundukkan kepalanya seraya menciumi telapak tangan yang ia genggam saat ini,

Davendra dan juga Kegan menyaksikannya, bagaimana lamban laun pohon yang selama ini kokoh akhirnya tumbang secara perlahan, Ramadella benar, kini pusat semesta mereka sedang redup, mereka semua baru menyadarinya selama seminggu ini, bahwa kini orang yang sedang berbaring ditempat tidur itu telah merebut seluruh hati yang selama ini mereka biarkan larut dalam rasa sakit, selama beberapa bulan ini mereka tidak menyadari jika hati yang selama ini mereka biarkan gersang lama kelamaan menjadi hangat, hanya karena seorang perempuan yang tiba tiba datang ke kehidupan mereka,

Davendra mengalihkan pandangannya, diikuti oleh Kegan yang melakukan hal tersebut, berpura-pura tidak melihat apa yang Ramadella berusaha lampiaskan pada tangan yang ia genggam dengan keras, tanpa mereka sadari tetesan air mata juga ikut turun dipipi mereka, dan tanpa mereka sadari pula, ada beberapa pasang mata yang ikut meloloskan air mata mereka ketika mendengarkan isakan tangis Ramadella yang terasa pedih nan sakit itu, malam mereka kini dibanjiri oleh tangisan pohon yang selama ini menopang mereka.


Aydan keluar dari kamarnya, memasang earpodnya dengan lantunan suara Jeff bernat yang melantunkan lagu Call you minenya itu, matanya tiba-tiba fokus pada perempuan bersurai hitam yang sedang tersenyum seraya memakan sepotong rotinya,

“Mas Aydan mau?” Suara yang sangat ia kenali, suara yang sangat ia rindukan tiba-tiba terdengar ditelinganya,

“Mamih?” ucapnya memanggil perempuan anggun bersurai kecoklatan itu yang kini sedang menghampiri Dayana, “Kok ada-” bibirnya kelu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia masih menerka apa yang sedang terjadi, mengapa hanya ada Dayana disini, dan mengapa ibunya yang ia temui.

“Day, sekarang siap-siap berangkat ya, berangkatnya sama mas Aydan,” ucap suara lembut yang tadi memanggil Aydan,

“Mih, Deo-” ucapan Aydan terhenti kala tangannya digenggam oleh perempuan bersurai hitam dengan gaun biru langit, warna favoritnya, membuat dirinya semakin cantik, Aydan lalu mengalihkan pandangannya kearah perempuan tersebut yang langsung membuat perempuan itu tersenyum,

“Ayo mas, yang lain udah nungguin,”

ucapan terakhir dari perempuan bersurai hitam itu membangunkannya dari tidurnya, suara ramai nan panik langsung memasukki indra pendengarannya, seruaan para masnya dengan sangat terburu memanggil para medis untuk segera memeriksa seseorang yang baru saja kembali itu,

You're doing great, Ay. Tinggal satu lagi,” Edhan menepuk pundaknya pelan, menyadarkan dirinya bahwa kini ia sudah kembali kekehidupan nyatanya, jangan tanyakan apa yang terjadi pada Aydan, jika ia tau, ia juga pasti sudah menjelaskannya dengan segala keilmuan yang menjelaskan itu. Tapi nyatanya, ia dan juga Edhan juga tidak mengetahui kemampuannya ini dinamakan apa, mereka biasa menyebutnya ilmu ajaib, dimana seorang Aydan bisa beberapa kali memprediksikan kejadian yang akan terjadi pada saudara-saudaranya, sedangkan Edhan bisa memberikan saran yang akurat pada semua saudaranya, hanya berlaku pada Kentara bersaudara? Ya. Hanya berlaku dikalangan Kentara bersaudara.

Ntahlah itu kebetulan, atau memang Aydan seseorang “yang bisa” meramal masa depan.


Hai sebelumnya maaf banget ada kesalahan lagi pada narasi dan fake tweet sebelumnya. Harusnya keluarga Kayvan manggil orang tuanya Mamih Papih, tapi sebenernya apapun panggilannya kalo kalian bacanya penuh dengan hati tetap kerasa juga sih😘💙

chapt. thirty-four -

Hampir 3 bulan Dayana menghadapi keadaan ramai seperti sekarang, saut-sautan antara satu dengan yang lainnya membuat dirinya yang tadi merasa sedikit kelabu menjadi cerah kembali, selama 2 bulan lebih kini ia telah terbiasa dengan para saudaranya yang lain, telah terbiasa bercerita dengan santai dan nyamannya, telah terbiasa dengan perilaku-perilaku manis yang ia dapatkan, dan juga telah terbiasa dengan dirinya sebegai adik mereka, kini ia sudah tidak malu lagi untuk berinteraksi dengan mereka,

“Day, pilih mau yang mana?” Ailesh menyodorkan 5 kartu dengan berbagai warna didepannya, membuat Dayana menatapnya dengan bingung,

“Pilih yang item aja Day,” ucap Avanesh yang langsung ditatap tajam oleh Domicia, Kegan dan Arvel. Ya, kelima buah kartu tersebut adalah milik Byantara, Kegan, Domicia, Arvel dan juga Aidan sebagai mas tertua yang ada diruang makan saat ini,

Dayana memilih satu kartu yang menurutnya berbeda dari yang lainnya, “ASIK!! BLACK CARD BLACK CARD,” seru Avanesh sedikit meninggikan suaranya

“Black card siapa ini?” ucap Ailesh kepada kelima masnya itu,

Kegan yang sedang meminum sirup yang dibuat oleh Byantara langsung tersedak, “Shit, punya gue anjir,” ucap Kegan yang langsung ditepuk punggungnya oleh Byantara,

“Mulut lo yaa,”

“Eh sumpah, gak mau punya Byant aja apa?” Kegan mengucapkannya seraya menatap memelas kepada Dayana,

“Gak gak, gak boleh gitu brother, curang namanya itu mah,” Aidan langsung ditatap tajam oleh Kegan seraya melayangkan tinjuan yang ia sengaja alihkan tidak mengenai Aidan,

“Uang mas Kegan kan banyak,”

“Tau, hasil gak pulang selama 4 tahun harus dimanfaatkan mas,”

“Kalo gak kadaluarsa lu,”

Basudeo, Affandra dan juga Edhan tertawa bergantian setelah mengucapkan ejekannya kepada Kegan, membuat Kegan hanya bisa menghela napasnya,

“Chat ke aku ya mas Kegan, nomor pinnya,” ucap Ailesh yang setelahnya berlalu meninggalkan para saudaranya itu,

“SEKALIAN BELANJA, DAY,”

“BELI SETOKO TOKONYA BISA YA ITU”

ucapan itu keluar dari mulut Byantara dan Aydan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan para saudaranya

“MAMPIR GUCCI, ATAU LV DULU ENAK KALI YAA,” Domicia sengaja meninggikan suaranya membuat Kegan yang hanya diam ditempatnya mengejar Domicia hingga keluar rumah.