forty-first chapt. -
Aidan memperhatikan kedua saudaranya yang berada disamping dan hadapannya, ia sangat paham kedua saudaranya ini sedang mengirimkan chat satu sama lainnya tanpa sepengetahuannya, dilihat dari keduanya yang terkadang saling bertukar pandang,
“MAS!!” Aidan berteriak mengagetkan semua orang yang sedang berada diruangan itu, Kegan dan Byantara yang sedang bersantai langsung mengalihkan pandangannya ke arah Aidan,
Para mas tertua mereka memang masih bekerja, sehingga yang tersisa kini menjadi tanggung jawab dari Byantara dan juga Kegan,
“Gue ke rooftop yaa, asem,” seraya memeragakan seakan dia sedang merokok, “Kok lu berdua diem? Ayo dih!”
“Gue nyusul mau beli minum dulu dikantin,” Domicia mengucapkannya seraya mengambil dompet kulit berwarna coklatnya,
“Ayo Vel,”
“Sabar Toilet dulu,” jawab Arvel dan menghilang dibalik pintu kayu didalam ruangan itu,
Setelah beberapa menit berselang mereka bertiga telah sampai didepan pintu besi yang langsung mengarahkan mereka kepada rooftop rumah sakit yang memang menjadi tempat bersantai beberapa orang itu,
Berjajar, seraya melihat kearah hamparan gedung yang dihiasi langit malam tanpa bintang itu, Aidan menghela napasnya, seraya menghisap lagi batang tembakau yang diapit oleh kedua jarinya itu,
“Gue kayanya bakal mundur,” ucapan Aidan langsung membuat kedua saudaranya mengalihkan pandangannya kearah dirinya dengan tatapan bertanya, “Saras,”
“HAH?!”
“LU GILA YA?”
Aidan terkekeh kala mendengar semua reaksi dari kedua saudaranya itu, “Emang lo gapapa Vel kalau gue sama Saras?” ucapan Aidan sukses membuat sang empu yang disebut namanya oleh Aidan merasa gelisah,
“Apaan dah? Gue kan sama Saras temen Ay,”
Aidan langsung menggerakkan tangannya yang memegang rokoknya itu kekanan dan kekiri, tanda menolak ucapan Arvel tadi, “Kita udah kenal seumur hidup gue, serumah 10 tahun, lo pikir gue bisa gitu aja diboongin?”
Arvel menolehkan pandangannya kearah kembarannya itu, yang memang saat ini berada disamping kirinya, sedangkan Aidan disamping kanannya, “Jangan tanya gue,” Domicia meraih telepon genggamnya yang bergetar kala itu, dan langsung memfokuskan dirinya pada telepon genggamnya,
Arvel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menetralisirkan suaranya dengan deheman beberapa kali, “Gue gak masalah Ay, seriusan deh, ya emang sih suka, dari maba, tapi kan Sarasnya sukanya sama lu, terus juga lu suka kan sama saras? Selama you two have an mutual feeling, so why not? gausah mikirin gue, as long as you promise to make her happy, i'm totally fine with that, lagian jodoh kan gak ada yang tau, toh gue masih bisa kok cari yang lain selain Saras,” Arvel mengucapkannya panjang lebar dengan jantungnya yang sedikit berdegup, ntahlah apa yang membuatnya gugup mungkin karena ditebak dengan benar oleh seorang Aidan,
Aidan terkekeh, “Gak tau lah liat nanti,”
“Tapi izinin gue ngegalauin dia ya, Ay,”
“Anjir lu mau galau aja pake izin dulu sama gue, emang gue siape lu pikir,” Aidan membuang puntung rokoknya kedalam tempat sampah yang berada disampingnya,
Dan malam itu mereka menghabiskannya dengan menceritakan semua keluhannya satu sama lain.
“Fandd,” Basudeo mengucapkannya dengan nada jengkelnya itu, “Lu bisa gak sih tidur? Ini udah 3 hari lu tidur disamping gue, tapi selalu ngeliatin gue mulu sampe gue tidur, gue masih idup Fand kalo lo takut mah,” ucapnya lagi dengan masih memejamkan matanya,
Memang setelah Basudeo sadar dari tidurnya yang panjang, seorang Affandra memohon kepadanya untuk ia bisa tidur disamping dalam satu tempat tidur yang sama, untungnya tempat tidur yang disediakan oleh rumah sakit ini memang terbilang cukup luas, namun tetap saja seluas-luasnya tempat tidur rumah sakit, jika sedang dalam keadaan tidak baik tidur berdua dalam satu tempat tidur bukanlah hal yang baik,
“Siapa juga yang ngeliatin lo, orang gue lagi main hp,” Affandra mengucapkannya seraya memalingkan pandangannya kearah samping tempat tidur Basudeo, tempat dimana Dayana telah terlelap itu,
“Gausah sok enggak enggak deh, gue tau Fand, feeling gue kuat,” ucapan Basudeo langsung dibalas decakan oleh Affandra,
“Alesh, lo bisa gak sih tidur?! Gue masih idup lagian ini udah beberapa hari astaga,” ucapan Dayana yang lumayan keras langsung membuat beberapa masnya terbangun, kecuali Avanesh, Aidan, Edhan, Arvel dan Kegan.
“Alesh tidur disini aja sini, disini masih kosong,” Aydan menunjuk tempatnya yang memang berada dipojok sedangkan disamping kanannya Avanesh telah tertidur sedari tadi,
Jika Affand memilih satu tempat tidur bersama Basudeo, sedangkan Ailesh memilih untuk tidur disofa yang berada disamping tempat tidur Dayana, “Ish elu mah berisik,”
“Udah Alesh tidur sana samping mas Aydan, biar disitu mas aja, besok kan udah mulai sekolah,”
“Oh iya sekolah,” Affandra tiba-tiba bersuara kala mengingat besok dirinya kembali disibukkan dengan kegiatan sekolahnya, walaupun selama hampir dua minggu ini mereka tidak bersekolah karena ntahlah menurut mas tertuanya mereka masih dalam tahap shock pasca kedua saudaranya terkena musibah kecelakaan, tetapi selama hampir tidak bersekolah tatap muka mereka masih menerima materi hingga tugas yang mereka dapatkan langsung dari para gurunya,
“Cyatt. Sekolah, byebye,” Basudeo meledek Affandra dengan masih memejamkan matanya itu, berusaha untuk tertidur