fourtieth chapt. -

Basudeo mengerjapkan matanya beberapa kali guna lebih membiasakan netranya menerima cahaya yang ada, “Kondisinya baik, ini tuh kaya keajaiban dari tuhan, gue sendiri awalnya ragu sama Deo sebenernya, tapi kayanya emang dasarnya anaknya dilimpahin sama keberuntungan jadi sekarang dia oke,” ucap Alkarel Sena, dokter yang menangani Basudeo dan Dayana, sekaligus sahabat dekat seorang Ramadella,

“Thank Rel,” Ramadella mengucapkannya seraya menjabat tangan Alkarel dengan sedikit membungkuk membuat Alkarel langsung menariknya dan megakkan sahabatnya itu

“Apaan sih Ram kaya sama siapa, santai aja, Deo sama Day kan juga udah gue anggep adek gue sendiri,”

Hening menguasai ruangan ini, masih tidak percaya bahwa seluruh kesakitan mereka seminggu kebelakang telah berakhir, kini kedua orang yang selama ini menghidupkan suasana telah kembali,

Kayvan mendekati Basudeo, mendekatkan kepala Basudeo dengan dada bidangnya, dan merangkul pundaknya dengan erat, seraya mencium puncak kepala Basudeo dan mengusap punggung adik bungsunya itu tanpa sepatah katapun, Basudeo masih terdiam, ia masih memproses semuanya.

Affandra, Edhan dan Aydan mengalihkan pandangannya kearah lain, tak kuasa menahan tangisnya lagi dan kini semua derai air mata itupun juga ikut turun,

Kegan, dan Domicia yang melihat itu langsung menghampiri mereka satu demi satu, Kegan memeluk Affandra dengan erat saling menumpahkan segala kekhawatiran mereka yang selama ini mereka tanggung, sedangkan Domicia langsung merangkul Edhan dan Aydan secara bersamaan, membuat mereka langsung terisak dikedua bahu Domicia itu,

Sedangkan Arvel? Ia sudah terlebih dahulu mengambil alih Aidan, yang kini sudah terisak sedikit keras pada pundak kokoh Arvel, dengan memeluk erat pinggang Arvel seperti menyalurkan semua kefrustasiannya, selama seminggu ini Aidan memang hanya bisa berdiam diri, benar-benar seperti bukan Aidan yang mereka kenal dengan banyak bicara dan banyak bercandanya, ia hanya diam atau terkadang sibuk menatap handphonenya, yang tidak saudara-saudaranya tau dalam seminggu ini Aidan berperang sendiri oleh dirinya, menyibukkan seluruh penglihatannya dengan beberapa video agar pikirannya juga tidak terlalu berisik,

Satu persatu orang menghampiri Basudeo setelah Kayvan selesai melampiaskan perasaan bangganya, “Jangan tinggalin gue sendirian,” Affandra menatap tangan Basudeo yang masih tertusuk jarum infus tersebut,

Basudeo yang setelah beberapa menit telah kembali berdecak kepadanya, “Gak akan tega gue,” ucapannya sukses membuat seorang Affandra semakin menundukkan kepalanya, dirasakannya tangan yang saat ini digenggam oleh Affandra sedikit terkena tetesan air, “Yaelah jangan nangis lagi dong,” ucapan Basudeo sontak membuat Affandra langsung menghapus air matanya,

“Enggak gue gak nangisin lu, ye geer,” ucapan Affandra langsung dibalas denga tawa bersamaan seorang Basudeo dengan beberapa saudaranya itu,

“Samanya kaya abangnya gengsian banget lu,” Arvel yang mengucapkan itu langsung dibalas jitakkan dikepalanya oleh Kegan,

Aydan mendekati Basudeo dengan perlahan, “Ngeselin lo,” ucapannya membuat Basudeo tertawa singkat pula,

“Maksud gue tempat gue disini tuh, ya disini, ditengah-tengah kalian,” Basudeo tersenyum singkat kepada Aydan yang langsung dibalas anggukan oleh orang yang didepannya, “Nurutin apapun kemauan gue kan?” Basudeo mengucapkannya dengan nada meledeknya membuat seorang Aydan memutar kedua bola matanya jengkel,

Ailesh dan Avanesh masih terdiam berlindung dibalik punggung seorang Davendra, mata mereka berdua benar benar bengkak, tangisannya sampai saat ini masih terdengar, mereka bahagia, sangat bahagia,

“Yo, adek adek lo tuh,” ucap Edhan yang baru saja menjauhkan dirinya dari Basudeo, menunjuk orang yang dibalik punggung Davendra dengan dagunya,

“Anesh sama Alesh masih nangis?” Tidak ada sautan dari keduanya membuat Basudeo hanya tertawa dan mengalihkan pandangannya ke seseorang yang sedari tadi hanya menatapnya, “Hai cantik, You're fine?” pertanyaan Basudeo sukses membuat isakan Dayana akhirnya keluar, semua saudaranya yang melihat itu langsung terkejut pasalnya sedari Basudeo sadar, Dayana memang hanya terdiam saja,

Ramadella langsung menghampiri Dayana, dan memeluknya erat, “Sstt it's okay, it's okay, i'm here, i'm here, gapapa hey mas Deonya kan udah gapapa tuh liat,” Ramadella mengucapkannya seraya mengusap surai hitam Dayana dan mengecup puncak kepalanya,

Basudeo hanya tersenyum melihat semua saudaranya yang ia tau semuanya menitikkan air matanya hanya karen dia telah kembali, keputusannya tepat, untuk kembali ketengah-tengah mereka lagi.