chapt. thirty-eight - tw // car accident -

Masih teringat jelas dimemorinya bagaimana saat yang paling ia benci saat ini terjadi, masih teringat jelas bagaimana sosok yang saat ini masih berbaring dengan mata indah yang tertutupnya merangkum tubuhnya didalam dekapan laki-laki itu dengan sangat erat, membentenginya dari segala hal yang dapat membuatnya terluka, mengorbankan tubuhnya hancur terkena serpihan kaca dan juga hantaman keras tembok pembatas yang ia ingat menabrak mobil yang malam itu ia tumpangi,

Dayana memejamkan matanya untuk kesekian kalinya, air matanya kini lolos kembali seperti beberapa menit lalu ketika dirinya telah kembali ke kenyataan lagi bersama para saudaranya yang menunggunya itu, “Hei, kok nangis lagi,” ucap Byantara yang sedari tadi menyuapinya dengan bubur itu, “It's not your fault Day, itu pilihannya mas Deo, dan kalau kamu nangis gini malah bikin mas Deo sedih loh,” ucap Byantara lagi seraya menyuapi adik perempuannya itu bubur yang ada didepannya,

“ALESH DATANGGG!!!” seruan heboh dari arah pintu membuat beberapa orang yang berada diruangan itu mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka lebar,

Aydan, Edhan dan Affandra yang sedang berkutat dengan tugas sekolahnya bersama dengan Domicia dan Arvel yang mendampingi mereka, Aidan yang memandang fokus ke arah smartphonenya dengan airpod yang terpasang ditelinganya, sedangkan Kayvan dan Rama yang sedang mengobrol serius dipojok sana bersama seseorang disambungan telepon,

Davendra? Ia yang menemani kedua kembar kecil keluarga Kentara untuk pergi keluar tadi, “Day day day, liat!! Gue beli bubur juga sama Anesh, jadi lo makan bu- yah kok bubur lo udah abis sih?!”

Davendra datang mendekat seraya mengelus puncak kepala Ailesh, “ Kamu kelamaan searching bubur enaknya sih,”

“Tau, coba aja beli yang pas dari gerobak pertama pasti udah makan bareng sama Dayana,” Avanesh mengambil alih kantong plastik bening yang sedari tadi dibawa Ailesh, memindahkan bubur yang berada disterofoam itu kedalam mangkuk yang memang tersedia diruangan yang merek tempati selama seminggu ini,

Dayana hanya bisa menanggapi celotehan asal itu dengan senyuman singkat dengan masih menatap getir orang orang yang berusaha mengajaknya bicara, “Mas ambilin minumnya ya,” Byantara mengelus lembut puncak surai hitam milik Dayana seraya tersenyum juga,

“Wah hebat makannya abis yaa,” ucap Davendra membuat seisi ruangan itupun ikut menyautinya dengan tepuk tangan, persis seperti menyoraki seorang anak kecil yang menghabiskan makanannya,

Dayana kembali meringsut masuk kedalam selimutnya, menenggelamkan dirinya kembali seraya menatap kearah depannya yang menyajikan pemandangan lampu-lampu gedung yang memang terlihat dari kaca didepannya, dengan masih enggan untuk mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, dan tanpa ia sadari banyak pasang mata yang berharap cemas kepadanya.