forty-third chapt. -
Gadis dengan surai hitam, bernetra hitam pekat itu telah siap dengan seragam yang dilengkapi blazer abu-abunya, tangannya dengan terampil mengikat surai hitamnya dengan cepat, melihat sekali lagi kearah cermin panjang dengan bayangan dirinya yang terpatri disana, merapikan dan mengecek sekali lagi penampilannya hari ini,
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan menghancurkan lamunannya yang sedang memperhatikan penampilannya saat ini, yang ia baru sadari sudah sangat berbeda dengan dirinya beberapa bulan sebelumnya, ia menggelengkan kepalanya sebelum beranjak menuju pintu putih yang ada didalam kamarnya itu,
Sosok laki-laki dengan tinggi yang sangat melampauinya berdiri dengan seragam yang serupa dengannya, “Bagi parfum dong, parfum gue tadi malem pecah semua pas lagi dikejar-kejar Anesh,” Tak lama setelahnya iapun langsung masuk tanpa permisi, Ailesh Reka Kentara, yang memang sudah terbiasa masuk kedalam kamar yang didominasi dengan cat putih, dan didesign sesempurna mungkin oleh sang designer ruangannya, yap, ruangan itu hasil karya terbaik seorang Kegan Ayundra Kentara, seorang arsitektur yang merangkap design interior keluarga Kentara itu.
“ALESH!! LO SALAH NGAMBIL BLAZER ANJIR!” Tanpa Dayana mengalihkan pandangannya kearah sumber suara itu, seseorang dengan perawakan yang hampir sama dengan laki-laki yang sedang memilih parfum dimeja rias Dayana sudah masuk tanpa permisi, “Ini ah, digue gombrong banget gak enak,”
Ketukan pintu sekali lagi terdengar, membuat ketiganya langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu tersebut, “Aden, Non, udah ditunggu hayu kebawah,” ucap seorang pekerja dengan pakaian daster ala ibu-ibu rumahan, memang dirumah ini tidak ada pakaian khusus untuk para pekerja seperti dirumah-rumah mewah yang ada disinetron-sinetron atau film-film itu,
“Iya bi sebentar, masih milih parfum,”
“Lo mau pake parfum Dayana?”
“IYA! PARFUM GUE KAN KEMARIN 7 BOTOL JATOH SEMUA GARA GARA LEMPARAN GULING LO!”
“YA LO LAGIAN NGESELIN MAKAN CRACKERS DIKASUR GUE,”
Dayana menggelengkan kepalanya, sudah beberapa bulan ini, ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini, yang baru saja ia lihat itu, “BISA GAK GAUSAH PAKE TERIAK?” ucapnya dengan suara yang tak kalah tinggi untuk menghentikkan kedua saudaranya itu, dan langsung meninggalkan mereka yang masih berdebat perihal masalah diantara mereka tadi malam.
“Maaasss, ayolah boleh ya please please, ini udah hampir mau dua bulan loh Deo sembuhnya,” suara rayuan Basudeo sekali lagi terdengar ditengah beberapa saudaranya yang sedang menyantap sarapan mereka, ucapan Basudeo dengan sangat cepat langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Ramadella, yang memang masih duduk ditengah-tengah meja makan besar yang Kentara Bersaudara tempati sekarang, sedangkan Davendra dan Kayvan sudah berangkat sedari pagi buta untuk melakukan aktivitas mereka,
“Enggak Basudeo, sekali enggak ya enggak,” ucapan Ramadella terdengar tegas dan tidak bisa dibantahkan, membuat Basudeo hanya bisa berdecak dengan sebal dibangkunya itu, kini para saudaranya yang tersisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kehebohan pagi ini,
“Aku mau ke cafe ya nanti,” ucapan Dayana langsung mengundang tatapan tajam dari semua masnya yang ada dimeja makan itu, Ramadella, Byantara, Kegan, Domicia, Arvel, Aidan, Aydan, Edhan, Affandra, dan juga Basudeo langsung mengalihkan pandangannya tepat kesatu titik, “Mau nengok doang, lagian kan sama Anesh sama Alesh juga, lagian disana kan ada mas Bagas mas pasti,” ucap Dayana meyakinkan para masnya itu, sedangkan Avanesh dan Ailesh yang namanya disebutpun langsung menatap tajam ke arah Dayana juga,
“Berarti nanti dijemput sama mas, bukan sama pak Joko,” ucap tegas seorang Kegan kepada Dayana, yang langsung dibalas anggukkan oleh Ramadella yang mengartikan setuju dengan ucapan Kegan itu,
Dan lagi, hari ini, Dayana kembali menghela napasnya karena perlakuan para saudaranya itu yang tidak habis-habisnya menganggap dirinya bak pajangan porcelain yang sangat rapuh.