chapt. thirty-three -
“ARGHH!! Gila Edhan ini pedes banget anjir,” Basudeo langsung menyambar gelas yang hendak diminum oleh Aidan disampingnya,
“Edhan awas ya sakit,” ucap Davendra memperingati adiknya itu, yang hanya dibalas anggukan asal oleh Edhan,
“Kok mas Rama berdua sama mas Daven?” tanya Ailesh yang langsung membuat para saudaranya yang lain mengalihkan pandangannya ke arah kedua mas yang dituju,
“Mas Daven lagi diet,” Ramadella mengucapkannya asal, dan malah dibalas anggukan oleh semua adiknya yang langsung membuat Davendra menepuk pundaknya,
“Boong boong, mas Rama yang mau berdua,” jelas Davendra yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Ramadella,
Dayana yang hendak menaruh sesendok sambal kedalam mangkuknya untuk ketiga kalinya ditahan oleh Domicia disampingnya, “Udah kebanyakan itu, udah,” ucapnya seraya mengambil mangkuk kecil berisi sambal digenggaman Dayana, dan menjauhkannya,
“Makannya jangan dilama-lamain,” Kayvan yang telah selesai langsung memberikan mangkuknya kedalam bak cuci piring didapur mereka, malam ini Affandra yang bertugas membersihkan piring-piring kotor,
“Yang bersih ya, Fand.” Basudeo mengucapkan itu seraya menepuk pundak kembarannya dengan mengejek
“Bawel,” balas tajam Affandra kepada Basudeo, yang langsung dibalas tawa oleh Basudeo,
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Seluruh Kentara bersaudara telah berkumpul didalam ruangan seperti bioskop yang berada dirumah mereka itu,
Diawali dengan sebuah undian yang menentukan urutan berbicara dari mereka, yang menghasilkan orang pertama sampai ketiga tetap jatuh pada para mas tertua, lalu dilanjut oleh Basudeo, Aydan, Affandra, Ailesh, Avanesh, Edhan, Byantara, Kegan, Domicia, Arvel, Aidan, dan yang terakhir memang disengajakan khusus untuk Dayana, agar ia tau apa saja yang harus disampaikan kepada mereka,
“Oke, hmm pertama apa ya? Akhir-akhir ini mas lagi ngemaintain label musik yang mas jalanin udah dari 8 atau 9 tahun lalu.”
ucapan Ramadella direspon dengan keterkejutan oleh adik-adiknya pasalnya semua dari adiknya ini tidak mengetahuinya, kecuali Davendra dan Kayvan, tentunya yang memang ikut membantu memaintain label tersebut,
“Iya mas Rama punya label musik, kalau kalian tau mas Babas, sama band Dayone, yang ngecompose beberapa lagu mereka itu mas,”
Para adik-adiknya yang mendengarnya hanya berohria seraya menganggukkan kepala mereka, “Selebihnya, ya bosenlah bisnis a b c, kalian gak bakal mau denger,” ucapan terakhir dari Ramadella mengakhiri sesinya, dilanjut oleh Davendra,
“Kita mau barengan,” ucap Davendra seraya menunjuk kearah Kayvan, yang langsung membuat Kayvan berdiri juga mengikuti Davendra,
Tiba-tiba lampu dari ruangan tersebut redup, dan kemudian berganti gelap, secara tiba tiba, tergantikan dengan layar besar didepan mereka menyala, menayangkan beberapa foto yang menunjukkan Davendra sedang berpresentasi disusul oleh seorang Kayvan pula yang melakukan hal yang serupa, dilengkapi dengan penampilan mereka yang terlihat formal, lalu video tersebut diakhiri dengan kalimat,
“Let us present you”
“Davendra Argha Kentara, S.Sn., M.B.A, M.M, DBA. & Dr. Kayvan Tian Kentara, S.H., LL.M., M.Hum.”
disusul dengan foto keduanya memegang sebuah bouquet bunga, dengan Kayvan yang bersama seseorang, Davendra yang seorang diri,
“Hehehe, selesai S3nya,” ucap Davendra setelah lampu dalam ruangan itu menyala,
Seisi ruangan itu melihat kearah satu sama lain dengan orang disampingnya, mengisyaratkan beberapa macam hal yang sudah jelas ditangkap oleh beberapa orang itu, sedangkan yang lainnya ada yang mengetikkan sesuatu pada handphonenya, tidak terkecuali Ramadella,
Davendra menutup pembicaraannya yang menceritakan tentang perjalan studi S3nya, dan dilanjut juga oleh Kayvan yang menceritakan tentang hal yang tidak jauh berbeda, “Terus yang tadi itu, namanya Alana Cassandra Berlyn, udah hampir mau 2 tahun,” ucap Kayvan dengan sedikit salah tingkah,
“WAHH GILA!!”
“PARAH BANGET GAK BILANG BILANG,”
“Mas sabar ya diduluin,” ucap Aidan seraya menepuk pundak Ramadella yang berada didepannya,
“Ketemunya dimana mas?” suara Ailesh tiba-tiba terdengar kala semua masnya itu sedang heboh meledek Kayvan,
Kayvan sempat berpikir sejenak, “Waktu itu dicafe, pas nemenin mas Daven catwalk di europe,” ucapan Kayvan sukses membuat kaget orang yang disampingnya, Davendra.
“WAH ANJIR! gue yang kerja dia yang ketemu jodoh,” ucap Davendra kepada Kayvan yang langsung dibalas tawa olehnya,
Malam semakin berganti setelah Davendra menceritakan tentang studi S3nya dan juga rencananya membuka agensi hiburannya pada 3 bulan lagi, dan juga Kayvan yang memperkenalkan kekasihnya, sesi obrolan itupun berlanjut oleh Basudeo yang menceritakan ia berencana akan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan Musik secara bersamaan nantinya, lalu dilanjut cerita Aydan yang akan mengambil jurusan Bisnis dan Ilmu Komunikasi, dan dilanjut oleh Affandra yang berencana akan mengambil jurusan Kedokteran, dan kedua kembar bontot yang hanya bercerita tentang kegiatan mereka disekolahnya, lalu kini waktunya seorang Edhan yang berjalan kearah depan, dan berdiri ditengah ruangan yang seperti mini bioskop itu,
Ceritanya dimulai dari bimbangnya ia memilih jurusan kuliahnya, berlanjut dengan keputusannya memilih jurusan teknik elektro yang ntah apa yang ia pikirkan saat memilih hal itu,
“Terus,” ucapan Edhan terhenti sebentar, ia melihat kearah kembarannya, Aydan, yang memang sedari ia maju kedepan dan berdiri ditengah ruangan ini matanya fokus kearahnya, Edhan menghela napasnya, “Minggu depan Ed operasi,”
“HAH?!”
“OPERASI APAAN ANJIR?”
“ED GAK LUCU YA,”
ucapan menanyakan operasi apa hingga bertanya meyakinkan benar operasi atau tidak langsung memburu Edhan yang masih berdiri itu, Ramadella langsung menghampirinya, memegang kedua lengan Edhan, “Operasi apa?”
“Lasik,”
ucapan singkat Edhan langsung membuat seluruh orang yang berada diruangan itu bernapas lega, mereka kira Edhan akan operasi dengan masalah serius,
“Kirain anjir, udah jantungan ini jantung,”
“Ya jantungan jantung lah, masa usus,”
Kegan dan Aidan yang tadi bersautan, langsung ditatap tajam oleh Kayvan, Edhanpun langsung duduk ditempatnya karena urusannya telah selesai,
Dilanjut oleh Byantara yang membawa kabar bahwa sepertinya dia akan kembali dalam sebuah kejuaraan yang langsung diikuti oleh Kegan pula dengan berita yang sama, membuat beberapa adiknya yang mendengar itu ada yang bereaksi menyemangati ada juga yang hanya tersenyum kecut karena bersedih masnya akan segera pergi lagi,
Setelah mereka, kini giliran Domicia, Arvel dan Aidan, seharusnya hanya Domicia dan Arvel saja tetapi Aidanpun ikut maju juga, “Paket hemat kita ini,”
Diawali dengan berita yang membuat seluruh saudaranya kaget yaitu Domicia menyerah akan beasiswa cambridgenya lalu diikuti oleh rencananya yang akan mengambil kuliah double degree di Massachusetts Institute of Technology yang memang secara tidak langsung jaraknya berdekatan dengan universitas impian Arvel, Harvard University, membuat Arvel langsung menatapnya tak percaya, setelah cerita berani nan haru yang disampaikan oleh Domicia dan Arvel, kini giliran Aidan,
“Gue mau cerita apaan ya? Kayanya gak ada deh,” Aidan menggaruk tengkuknya seraya berpikir,
“Oh ini, mohon izin, mau beli motor lagi, bulan depan sampe indo sih kayanya,”
Aidan langsung dihadiahi pukulan kecil oleh Domicia, “Izin apaan yang udah dateng bulan depan,” ucap Domicia yang langsung dibalas kekehan singkat oleh Aidan,
Kini semua mata tertuju kepada Dayana yang gugup dan pikirannya banyak berputar akan banyak hal, “Its okay Day, santai aja,” ucap Ailesh yang duduk disampingnya seraya mengusap telapak tangan Dayana,
Dayanapun berdiri dengan gugup, kedua kakinya sedikit bergetar, dan tidak dihindari peluh keringat pun tercetak didahinya, “Hmm hai mas, hehe, malam semua,” ucapnya dengan salah tingkah dan sangat gugup,
“Hmm pertama-tama, Dayana mau bilang makasih sih sebenernya, makasih banget para mas sudah mau menerima Dayana dengan amat sangat baik, Dayana seneng banget sebenernya ketemu sama kalian semua, apalagi dengan perilaku kalian ke Day yang gak pernah aku dapetin dulunya,”
“Hampir 3 tahun Dayana terbiasa sendiri, apa-apa sendiri, dari mulai nyiapin keperluan buat pribadi sampai ke hal hal yang lumayan besar tuh sendiri, ya walaupun kadang dibantu sama mamih Wendy,” Dayana menghentikkan ucapannya kala tak sadar ia menyebut nama seseorang yang saat ini sedang ia hindari, Dayana mengehela napasnya, “Ya pokoknya apa-apa sendiri, tapi sekarang mungkin aku akan biasain untuk bareng sama kalian semua, yang biasanya mendem semuanya sendiri, mungkin nantinya aku akan membiasakan diri buat berbagi sama kalian,”
Dayana menjeda kalimatnya berpikir sejenak, dengan menundukkan kepalanya, “Aku sebenernya belum ngerasa yakin apa aku emang beneran adik kalian atau bukan, terlepas dari mas Rama yang udah nunjukkin semuanya ke aku, tapi aku bener-bener masih ragu,”
“Mas Kegan pernah cerita kalo Mamah sama Papah ku tuh baik banget, dan sangat amat ramah sama orang, tapi entah mengapa aku bener-bener gak merasa kalo mereka tuh orang tua aku, aku malah merasa mereka orang asing..”
“Maaf tapi-” ucapannya terhenti karena kini dirinya telah dipeluk kuat oleh sosok yang tiba tiba hadir didepannya, Ramadella, yang memang sudah melihat gelagat bahwa Dayana akan menangis sedari tadi ketika ia membahas tentang orang tuanya, dan tangis Dayanapun pecah,
Sepersekian menit tangisnya pecah dan para saudaranya yang lain hanya bisa menatapnya dengan tatapan iba, Ramadella masih merangkum tubuhnya, “sst.. Its okay Day, We're here for you,” Ramadella mengecup puncak kepala Dayana dengan pelan, seraya menyalurkan rasa kasih sayang dan rasa aman yang selama ini Dayana tidak rasakan setelah kepergian bundanya.