©loeyhunJ4d

An alter universe

chapt. thirty-three -

“ARGHH!! Gila Edhan ini pedes banget anjir,” Basudeo langsung menyambar gelas yang hendak diminum oleh Aidan disampingnya,

“Edhan awas ya sakit,” ucap Davendra memperingati adiknya itu, yang hanya dibalas anggukan asal oleh Edhan,

“Kok mas Rama berdua sama mas Daven?” tanya Ailesh yang langsung membuat para saudaranya yang lain mengalihkan pandangannya ke arah kedua mas yang dituju,

“Mas Daven lagi diet,” Ramadella mengucapkannya asal, dan malah dibalas anggukan oleh semua adiknya yang langsung membuat Davendra menepuk pundaknya,

“Boong boong, mas Rama yang mau berdua,” jelas Davendra yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Ramadella,

Dayana yang hendak menaruh sesendok sambal kedalam mangkuknya untuk ketiga kalinya ditahan oleh Domicia disampingnya, “Udah kebanyakan itu, udah,” ucapnya seraya mengambil mangkuk kecil berisi sambal digenggaman Dayana, dan menjauhkannya,

“Makannya jangan dilama-lamain,” Kayvan yang telah selesai langsung memberikan mangkuknya kedalam bak cuci piring didapur mereka, malam ini Affandra yang bertugas membersihkan piring-piring kotor,

“Yang bersih ya, Fand.” Basudeo mengucapkan itu seraya menepuk pundak kembarannya dengan mengejek

“Bawel,” balas tajam Affandra kepada Basudeo, yang langsung dibalas tawa oleh Basudeo,


Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Seluruh Kentara bersaudara telah berkumpul didalam ruangan seperti bioskop yang berada dirumah mereka itu,

Diawali dengan sebuah undian yang menentukan urutan berbicara dari mereka, yang menghasilkan orang pertama sampai ketiga tetap jatuh pada para mas tertua, lalu dilanjut oleh Basudeo, Aydan, Affandra, Ailesh, Avanesh, Edhan, Byantara, Kegan, Domicia, Arvel, Aidan, dan yang terakhir memang disengajakan khusus untuk Dayana, agar ia tau apa saja yang harus disampaikan kepada mereka,

“Oke, hmm pertama apa ya? Akhir-akhir ini mas lagi ngemaintain label musik yang mas jalanin udah dari 8 atau 9 tahun lalu.”

ucapan Ramadella direspon dengan keterkejutan oleh adik-adiknya pasalnya semua dari adiknya ini tidak mengetahuinya, kecuali Davendra dan Kayvan, tentunya yang memang ikut membantu memaintain label tersebut,

“Iya mas Rama punya label musik, kalau kalian tau mas Babas, sama band Dayone, yang ngecompose beberapa lagu mereka itu mas,”

Para adik-adiknya yang mendengarnya hanya berohria seraya menganggukkan kepala mereka, “Selebihnya, ya bosenlah bisnis a b c, kalian gak bakal mau denger,” ucapan terakhir dari Ramadella mengakhiri sesinya, dilanjut oleh Davendra,

“Kita mau barengan,” ucap Davendra seraya menunjuk kearah Kayvan, yang langsung membuat Kayvan berdiri juga mengikuti Davendra,

Tiba-tiba lampu dari ruangan tersebut redup, dan kemudian berganti gelap, secara tiba tiba, tergantikan dengan layar besar didepan mereka menyala, menayangkan beberapa foto yang menunjukkan Davendra sedang berpresentasi disusul oleh seorang Kayvan pula yang melakukan hal yang serupa, dilengkapi dengan penampilan mereka yang terlihat formal, lalu video tersebut diakhiri dengan kalimat,

“Let us present you”

“Davendra Argha Kentara, S.Sn., M.B.A, M.M, DBA. & Dr. Kayvan Tian Kentara, S.H., LL.M., M.Hum.”

disusul dengan foto keduanya memegang sebuah bouquet bunga, dengan Kayvan yang bersama seseorang, Davendra yang seorang diri,

“Hehehe, selesai S3nya,” ucap Davendra setelah lampu dalam ruangan itu menyala,

Seisi ruangan itu melihat kearah satu sama lain dengan orang disampingnya, mengisyaratkan beberapa macam hal yang sudah jelas ditangkap oleh beberapa orang itu, sedangkan yang lainnya ada yang mengetikkan sesuatu pada handphonenya, tidak terkecuali Ramadella,

Davendra menutup pembicaraannya yang menceritakan tentang perjalan studi S3nya, dan dilanjut juga oleh Kayvan yang menceritakan tentang hal yang tidak jauh berbeda, “Terus yang tadi itu, namanya Alana Cassandra Berlyn, udah hampir mau 2 tahun,” ucap Kayvan dengan sedikit salah tingkah,

“WAHH GILA!!”

“PARAH BANGET GAK BILANG BILANG,”

“Mas sabar ya diduluin,” ucap Aidan seraya menepuk pundak Ramadella yang berada didepannya,

“Ketemunya dimana mas?” suara Ailesh tiba-tiba terdengar kala semua masnya itu sedang heboh meledek Kayvan,

Kayvan sempat berpikir sejenak, “Waktu itu dicafe, pas nemenin mas Daven catwalk di europe,” ucapan Kayvan sukses membuat kaget orang yang disampingnya, Davendra.

“WAH ANJIR! gue yang kerja dia yang ketemu jodoh,” ucap Davendra kepada Kayvan yang langsung dibalas tawa olehnya,

Malam semakin berganti setelah Davendra menceritakan tentang studi S3nya dan juga rencananya membuka agensi hiburannya pada 3 bulan lagi, dan juga Kayvan yang memperkenalkan kekasihnya, sesi obrolan itupun berlanjut oleh Basudeo yang menceritakan ia berencana akan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan Musik secara bersamaan nantinya, lalu dilanjut cerita Aydan yang akan mengambil jurusan Bisnis dan Ilmu Komunikasi, dan dilanjut oleh Affandra yang berencana akan mengambil jurusan Kedokteran, dan kedua kembar bontot yang hanya bercerita tentang kegiatan mereka disekolahnya, lalu kini waktunya seorang Edhan yang berjalan kearah depan, dan berdiri ditengah ruangan yang seperti mini bioskop itu,

Ceritanya dimulai dari bimbangnya ia memilih jurusan kuliahnya, berlanjut dengan keputusannya memilih jurusan teknik elektro yang ntah apa yang ia pikirkan saat memilih hal itu,

“Terus,” ucapan Edhan terhenti sebentar, ia melihat kearah kembarannya, Aydan, yang memang sedari ia maju kedepan dan berdiri ditengah ruangan ini matanya fokus kearahnya, Edhan menghela napasnya, “Minggu depan Ed operasi,”

“HAH?!”

“OPERASI APAAN ANJIR?”

“ED GAK LUCU YA,”

ucapan menanyakan operasi apa hingga bertanya meyakinkan benar operasi atau tidak langsung memburu Edhan yang masih berdiri itu, Ramadella langsung menghampirinya, memegang kedua lengan Edhan, “Operasi apa?”

“Lasik,”

ucapan singkat Edhan langsung membuat seluruh orang yang berada diruangan itu bernapas lega, mereka kira Edhan akan operasi dengan masalah serius,

“Kirain anjir, udah jantungan ini jantung,”

“Ya jantungan jantung lah, masa usus,”

Kegan dan Aidan yang tadi bersautan, langsung ditatap tajam oleh Kayvan, Edhanpun langsung duduk ditempatnya karena urusannya telah selesai,

Dilanjut oleh Byantara yang membawa kabar bahwa sepertinya dia akan kembali dalam sebuah kejuaraan yang langsung diikuti oleh Kegan pula dengan berita yang sama, membuat beberapa adiknya yang mendengar itu ada yang bereaksi menyemangati ada juga yang hanya tersenyum kecut karena bersedih masnya akan segera pergi lagi,

Setelah mereka, kini giliran Domicia, Arvel dan Aidan, seharusnya hanya Domicia dan Arvel saja tetapi Aidanpun ikut maju juga, “Paket hemat kita ini,”

Diawali dengan berita yang membuat seluruh saudaranya kaget yaitu Domicia menyerah akan beasiswa cambridgenya lalu diikuti oleh rencananya yang akan mengambil kuliah double degree di Massachusetts Institute of Technology yang memang secara tidak langsung jaraknya berdekatan dengan universitas impian Arvel, Harvard University, membuat Arvel langsung menatapnya tak percaya, setelah cerita berani nan haru yang disampaikan oleh Domicia dan Arvel, kini giliran Aidan,

“Gue mau cerita apaan ya? Kayanya gak ada deh,” Aidan menggaruk tengkuknya seraya berpikir,

“Oh ini, mohon izin, mau beli motor lagi, bulan depan sampe indo sih kayanya,”

Aidan langsung dihadiahi pukulan kecil oleh Domicia, “Izin apaan yang udah dateng bulan depan,” ucap Domicia yang langsung dibalas kekehan singkat oleh Aidan,

Kini semua mata tertuju kepada Dayana yang gugup dan pikirannya banyak berputar akan banyak hal, “Its okay Day, santai aja,” ucap Ailesh yang duduk disampingnya seraya mengusap telapak tangan Dayana,

Dayanapun berdiri dengan gugup, kedua kakinya sedikit bergetar, dan tidak dihindari peluh keringat pun tercetak didahinya, “Hmm hai mas, hehe, malam semua,” ucapnya dengan salah tingkah dan sangat gugup,

“Hmm pertama-tama, Dayana mau bilang makasih sih sebenernya, makasih banget para mas sudah mau menerima Dayana dengan amat sangat baik, Dayana seneng banget sebenernya ketemu sama kalian semua, apalagi dengan perilaku kalian ke Day yang gak pernah aku dapetin dulunya,”

“Hampir 3 tahun Dayana terbiasa sendiri, apa-apa sendiri, dari mulai nyiapin keperluan buat pribadi sampai ke hal hal yang lumayan besar tuh sendiri, ya walaupun kadang dibantu sama mamih Wendy,” Dayana menghentikkan ucapannya kala tak sadar ia menyebut nama seseorang yang saat ini sedang ia hindari, Dayana mengehela napasnya, “Ya pokoknya apa-apa sendiri, tapi sekarang mungkin aku akan biasain untuk bareng sama kalian semua, yang biasanya mendem semuanya sendiri, mungkin nantinya aku akan membiasakan diri buat berbagi sama kalian,”

Dayana menjeda kalimatnya berpikir sejenak, dengan menundukkan kepalanya, “Aku sebenernya belum ngerasa yakin apa aku emang beneran adik kalian atau bukan, terlepas dari mas Rama yang udah nunjukkin semuanya ke aku, tapi aku bener-bener masih ragu,”

“Mas Kegan pernah cerita kalo Mamah sama Papah ku tuh baik banget, dan sangat amat ramah sama orang, tapi entah mengapa aku bener-bener gak merasa kalo mereka tuh orang tua aku, aku malah merasa mereka orang asing..”

“Maaf tapi-” ucapannya terhenti karena kini dirinya telah dipeluk kuat oleh sosok yang tiba tiba hadir didepannya, Ramadella, yang memang sudah melihat gelagat bahwa Dayana akan menangis sedari tadi ketika ia membahas tentang orang tuanya, dan tangis Dayanapun pecah,

Sepersekian menit tangisnya pecah dan para saudaranya yang lain hanya bisa menatapnya dengan tatapan iba, Ramadella masih merangkum tubuhnya, “sst.. Its okay Day, We're here for you,” Ramadella mengecup puncak kepala Dayana dengan pelan, seraya menyalurkan rasa kasih sayang dan rasa aman yang selama ini Dayana tidak rasakan setelah kepergian bundanya.

⚠️chapt. thirty-fifth tw// car accident -

Degup jantungnya semakin cepat memicu, pikirannya kini dipaksa bergerak dengan cepat untuk berpikir, banyak kalimat yang diawali dengan seharusnya yang terus berlarian pada saat ini didalam pikirannya,

“Day, kamu percaya sama mas kan?” ucapnya kepada wanita bersurai hitam disampingnya yang sedang memainkan handphonenya,

“Hah? Apa sih mas? Percayalah,”

ucapan terakhir Dayana sukses membuat pikirannya merasa yakin, Basudeo yang mengemudi mobil porsche taycan berwana hitam miliknya dengan Affandra, kini sedikit menambah kecepatannya,

“Mas? Mas kenapa sih?”

“Pegangan kuat, percayakan sama mas?” Basudeo mendapat anggukan kepala dari Dayana, yang langsung membuatnya tersenyum,

Nanti. Nanti ia harus berterimakasih oleh seorang Byantara yang pernah melaksanakan pembelajaran balap selama 3 bulan untuknya dan para saudaranya itu,

Setir kemudi yang ia kendarai ia banting ke arah kanan hingga menukik, untungnya jalanan yang ia lintasi kini telah sepi dan lenggang, membuat dirinya leluasa akan setir kemudinya, Basudeo melihat kearah penunjuk bensinnya, baru kali ini ia harus bersyukur kepada kebiasaan Edhan yang selalu melupakan mengisi bensin setiap memakai mobil ini,

Pedal gasnya ia injak sedikit, seraya menekan tombol dial telepon yang berada dilayar mobilnya, setir mobil yang ia kemudikan, ia banting habis kearah kanan,

Hantaman keras tidak terhindarkan antara body mengkilap mobil porsche taycan warna hitam yang dibawanya dengan tembok kokoh berwarna abu-abu milik pintu masuk sebuah pabrik yang sudah lumayan lama kosong, untuk kedua kalinya ia harus berterimakasih kepada seorang Edhan Samudera, karena telah memberitahukan lokasi ini kepadanya,

Tubuhnya kaku, rasa ngilu dan sakit yang ada kini tidak bisa ia bedakan mana yang paling sakit, dalam rasa kesakitannya ia tersenyum sedikit, Papih, liat kan? Deo udah jadi jagoan sekarang, batinnya, kesadarannya hampir hilang, hingga suara isakan terdengar dari arah kungkungan yang ia ciptakan,

Dayana masih memejamkan matanya, ia tidak berani untuk melebarkan matanya, fokusnya terpusat pada gerakan tubuhnya, ia berusaha keras untuk tidak bergerak sedikitpun, karena takut menjadi lebih bencana bagi orang yang berada diatas tubuhnya, isakan tangisnya tak bisa ia tahan, tapi ia berusaha untuk tidak terdengar,

“Sstt.. It's okay, I'm here,” suara bariton lemah terdengar masuk kedalam pendengarannya, membuatnya semakin ingin terisak, tapi tenaganya juga kian lama kian berkurang, dan kegelapanpun menguasai pandangannya.


Sosok tinggi, tegap, dengan setelan formal berwarna biru tua berjalan tergesa, dengan isi kepala yang sangat penuh dan berisik, merapalkan seluruh mantra yang ia harap bisa menyelamatkan kedua adik kecilnya yang ia yakini sedang terbaring ntah diruangan mana,

Netra kecoklatan menangkap sosok yang tetap berusaha kokoh berjalan mendekat kearahnya, menyusuri lorong bercat putih dengan penerangan sedikit meredup,

Domicia menahan sosok yang hampir saja terjatuh ketika bertemu netranya, “Mereka sekarang dimana? Mereka kenapa? Kok bisa kaya giniii” rentetan pertanyaan itu terucap begitu cepat tanpa sadar, dengan suara yang lemah dan bergetar

“Mereka udah diruang tindakan mas, mas Rama tenang dulu ya, mas Daven sama mas Kegan baru aja masuk mau cek buat tranfusi darah, soalnya tadi Dayana sama Deo kekurangan darah, mas Byant lagi ngurus administrasi, Edhan sama Aydan lagi beli makan soalnya kita semua baru mau makan sama ngambil beberapa barang dirumah,” jelas Domicia kepada Ramadella tanpa terlebih dulu ditanya,

“Kayvan?” tanya Ramadella dengan cepat, namun setelahnya ia langsung menghela napasnya, sadar akan keberadaan Kayvan,

Domicia tersenyum menenangkan mas tertuanya itu, “Mas Kayvan tadi sempet kesini sebentar, terus pergi lagi sama anak-anak botulinumnya,”

Rama menganggukkan kepalanya dengan cepat, mengusap wajahnya kasar dengan matanya yang hampir menangis tertahan dipelupuk, jangan tanyakan bagaimana keadaan perasaannya, karena iapun cukup rumit untuk menjelaskannya,

Netra kecoklatan Rama menangkap sosok Arvel dengan baju basketnya, berjongkok dengan tangan yang menahan kedua kepalan dari seseorang yang berada didepannya, dengan tubuh yang jauh lebih besar dan berotot dari Arvel, baju hitam dan celana pendek olahraganya melengkapi penampilannya saat ini, ia menundukkan kepalanya, rahangnya yang mengeras terlihat samar didalam netra Ramadella, dengan seseorang yang jauh lebih kecil dengan pakaian sekolah berwarna abunya yang sudah tidak karuan, ikut tertunduk disampingnya, dengan tangan yang ia kalungkan dibelakang lehernya,

Ramadella menghela napasnya lagi dengan frustasi, selain dirinya ia sangat paham ada banyak sosok yang lebih terpukul dan jatuh kala mereka bersaudara terkena musibah, ya, sosok sosok itu adalah Kayvan beserta para adiknya, karena pasalnya sudah sedari orang tua mereka, tepatnya anak ketiga dari keturunan Kentara, Mario Tirta Kentara, mengemban tanggung jawab besar secara tidak langsung untuk melindungi seluruh anggota Kentara tidak terkecuali, sehingga jika ada hal seperti ini, mereka lah yang akan secara sukarela untuk mengorbankan dirinya.

Ramadella berjongkok disamping Domicia, lalu menundukkan kepalanya, dalam batinnya juga mengulang kalimat yang sama, Jika memang harus mengambil salah satu dari mereka, biar kan ia yang menggantikan posisi itu batinnya, dengan tanpa sadar air mata yang tertahan dipelupuknya lolos hingga jatuh keatas pipinya.

chapt. thirty-second -

“YA LO LAGIAN KENAPA SIH KALO BANGUNIN ORANG HARUS GITU?!”

“Tau nih! Gue jadi sakit kepala tau mas,”

“Udah kaya satpol pp lagi ngegrebek tempat asusila anjir,”

Suara meninggi dari Kegan diikuti oleh Edhan dan terakhir Aydan menyambut Dayana yang baru saja keluar dari kamarnya setelah ia sudah siap memakai baju olahraganya,

“Ini ada apasi?” bisik Dayana pelan dikuping Ailesh, yang langsung membuat seorang Ailesh yang mendengar itu langsung memiringkan handphone yang sedang dipegangnya,

“Nih,” Ailesh menunjukkan sebuah video yang berasal dari instagram story milik Byantara dengan volume lumayan kencang, membuat Dayana langsung terkejut mendengarnya, suara ketukan pintu yang keras dilengkapi dengan lantunan nyanyian asal yang ia kenali itu suara seorang Basudeo dan Arvel melatar belakangi video tetap yang mengarah pada lampu tidur berbentuk bulat,

“Tapi kok gue gak kedengeran sih gedoran gitu?” tanya Dayana terheran,

“Iyalah gak denger Day, orang kamar lo, sama kamarnya Alesh dipasang peredam suara dari luar, makanya suara yang dari luar gak terlalu kedengeran,” ucap Anesh kepada Dayana, “Lagian ya kamar lu tuh dipojok soalnya, jauh dari kamarnya mereka mereka ini, sama gue juga,”

“Mas pilih kasih banget, masa si Affand gak digituin, cuman gue bertiga doang,” Affandra yang disebut namanya oleh Basudeo tadi langsung menatap Basudeo dengan tajam,

“Ya emang lo berani bangunin dia gitu?” Aidan membisikkan jawabannya kearah telinga Basudeo agar tidak terdengar oleh si empu yang punya nama, bisikkan Aidan langsung dibalas gelengan kepala oleh Basudeo,

“TERIAK TERIAKNYA MASIH PADA LAMA?” ucap Byantara dari lantai bawah rumah keluarga Kentara,

Arvel dan Domicia yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka semua dengan saling bersandar terduduk disofa ruang keluarga lantai atas rumah tersebut langsung bergerak turun ketika mendengar teriakkan dari Byantara, diikuti oleh beberapa saudaranya, Kegan, Aidan, Basudeo, Aydan, Edhan dan ketiga adik termuda mereka, Ailesh, Avanesh dan serta Dayana yang dirangkul pundaknya oleh Ailesh.

“Baju dari siapa itu kamu, Day?” ucap Kayvan ketika Dayana berhasil menginjakkan langkah terakhirnya dilantai bawah,

Dayana tampak berpikir, “Mas Daven,” ucapnya menjawab Kayvan, sebab memang tadi pagi-pagi sekali yang membangunkannya dengan perlahan itu Davendra seraya membawa beberapa setelan baju olahraga yang harus dipilihnya,

Kayvan melirik Davendra sejenak dengan tatapan tajamnya, lalu berlalu mendekat kearah Dayana dan memasangkan jaket abu-abu yang sempat ia pakai, lalu menaikkan resletingnya hingga menutupi sebagian tubuh Dayana, “Jangan dilepas,” ucapnya lalu berlalu mendekat kearah Davendra dan menepuk ujung topinya,

“Apasih? Orang tadi gue ngasihnya beberapa setel, itu Dayana yang milih kan?” seruan tanya Davendra langsung dibalas anggukkan oleh Dayana, “Tuh,”

“Udah lah mas, kan Dayana perginya sama kita, mau pake baju apa juga terserah dia deh,” Kegan mengucapkan itu guna menenangkan abang tertuanya yang memang sedikit posesif oleh adik-adiknya,

“Gue bisa berantem kok mas,” Edhan mengucapkannya seraya memakaikan topi yang ada ditangannya ke kepala Dayana, “Takut panas,”

Para mas tertuanya yang mendengarkan ucapan Edhan hanya bisa memutarkan kedua bola mata mereka pertanda muak dengan omongan adiknya itu, “Begaya berantem berantem, tapi giliran mas Rama yang dateng ke sekolah ketar ketir,” ucap Basudeo membalas ucapan Edhan tadi yang langsung membuat Edhan mengejarnya yang memang sudah berlari keluar terlebih dahulu,

“Yaudah yuk,” Davendra langsung memakai topinya, dan berlalu disusul oleh ketiga belas saudaranya yang lain.


Waktu sudah menujukkan pukul 11 siang, para Kentara bersaudarapun telah sampai lagi dirumah mereka, “Langsung pada mandi terus kebawah makan siang,” ucap Ramadella yang langsung disahuti oleh para adik-adiknya,

“Mas gue mau pergi dulu ya nanti, sore paling balik,” ucap Kayvan seraya meminum air yang telah ia isi digelasnya,

“IKUTTT,” ucap Davendra menyahuti ucapan Kayvan tadi,

“Apaan si Ven? Ngikat ngikut ngikat ngikut mulu,”

“Emang kenapa si? Mau pacaran ka-hmphh,” Kayvan langsung menutup mulut Davendra yang sedang berbicara,

“MAS KAYVAN PACARAN?” Ailesh langsung berteriak setelah mendengarkan ucapan abangnya itu,

“CIELAH ABANG GUE PACARAN NIH YEE,”

“KENALIN LAH BRO, CAKEP NIH PASTI,”

Suara Aidan dan Kegan dari lantai atas saling bersahutan dengan nada tinggi,

“MAS KAYVAN KALO MAU PACARAN, UANG JAJAN NAIK YAA!!” teriakan Basudeo terdengar juga dari lantai atas,

Kayvan yang tau akan terus menjadi bahan ejekan para adiknya itu hanya bisa pasrah, “Elu sih,” ucap Kayvan yang langsung menatap tajam pula kearah Davendra.

thirty-first chapt. -

Dayana mengerjapkan matanya berkali-kali, membiasakan cahaya yang masuk ke netra hitamnya,

Ia sedikit terkejut tatkala melihat seragam olahraganya yang ia pakai hari ini telah tergantikan oleh piyama satin berwarna hitam, dilihatnya ke daerah disekelilingnya, hingga akhirnya ia menghela napasnya, ia teringat kalau sebelumnya ia berada dimobil yang sama oleh seorang Affandra yang sepanjang perjalanan memang hanya diam, itu sebabnya rasa kantuk dalam dirinya langsung menguasainya,

Dilihatnya kearah sampingnya guna mencari telepon genggamnya, ketika itu matanya terpatri dengan sebuah kertas kecil tertempel disebuah gelas, berisikan air mineral penuh,

Kalau udah bangun diminum ya, terus makan. Dikulkas ada spaghetti buatan mas Ay, tinggal panasin aja, – Davendra

Tak lama dari ia baca kertas tersebut perutnya langsung breaksi menandakan untuk segera mengisinya, Dayana pun akhirnya menggulung rambutnya asal dan segera berlalu keluar kamarnya,


Sesampainya didapur dilihatnya seseorang berpiyama biru tua sedang mengaduk minuman berwarna coklat yang ia buat dengan laptop yang menyala didepannya,

Dayanapun mundur perlahan karena tak ingin menganggu waktu seseorang tersebut, kala dirinya memundurkan langkahnya, iapun terhenti sejenak, karena merasakan ada sesuatu yang menahannya,

“Hayo mau kemana?” suara bariton serak khas seseorang yang baru bangun tidur menginterupsi keduanya, “Loh Cia? Kok kamu belum tidur?” ucap pemilik suara bariton itu kearah seseorang yang tadi dilihat Dayana, dengan kedua lengannya yang memegang bahu Dayana

“Mas Kayvan kebangun? Mau buat kopi atau susu gak? Dayana mau makan ya?” ucap Domicia yang melihat Dayana ada disana pula,

Dayanapun sedikit tertawa canggung, “Iya mas hehehe,”

Kayvan pun langsung mendorong pelan bahu Dayana agar mendekat kearah meja makan yang ditempati Cia, “Mas panasin dulu ya spaghettinya,”

“Eh Day bis-” ucapannya terhenti dengan tatapan tajam seorang Kayvan,

“Mas, Day, keatas ya,” ucap Domicia yang langsung meninggalkan mereka berdua,

Canggung. Suasana yang menyeruak diseluruh ruangan terasa canggung. Apalagi Dayana dan Kayvan memang baru saat ini bertemu lagi setelah kejadian kala Dayana dicegat beberapa orang yang berniat jahat padanya saat itu,

“Nih, abisin yaa, sama ini susunya juga,” Kayvanpun juga menuangkan segelas air mineral digelas lainnya, kemudia duduk disamping Dayana dengan segelas latte buatan Arvel yang telah ia hangatkan,

“Enak gak?” ucap Kayvan kepada Dayana yang langsung dibalas anggukan olehnya,

Kala Dayana ingin menyuap suapan keduanya, tangannya langsung dicekal oleh Kayvan, dan lengan bajunya langsung digulung oleh masnya itu, “Biar gak kotor,”

Dayanapun tersenyum, “Makasih mas,”

“Luka kamu gimana?”

ucapan Kayvan sukses membuat Dayana menoleh kearahnya yang sedang memperhatikan layar telpon genggamnya,

“Udah gakpapa mas, oiya makasih ya mas, mas sampe bayarin biaya rumah sakit gitu,”

Kayvanpun tersenyum, “Gak masalah, kan mas juga nyari uang buat kamu juga,”

Dayanapun sedikit berpikir sebentar, ada hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan,

Kayvan menyadari ada hal yang tidak beres pada Dayanapun menolehkan pandangannya dari layar telpon genggamnya itu, “Keluarin aja Dayana, gausah ditahan atau gengsi gitu,”

Dayanapun sedikit tertawa salah tingkah dengan ucapan Kayvan, “Waktu mas nolongin Dayana, mas udah tau? Kalau Day tuh adiknya mas?” ucapan Dayana langsung dibalas anggukkan oleh Kayvan,

“Makanya mas tau lokasi kamu juga, karena selama beberapa hari sebelumnya, mas terus jagain kamu dari jauh,” ucapnya sedikit berbumbu dusta,

Pasalnya sebenarnya kejadian yang menimpa Dayana itu adalah skenario yang dibuat Kayvan untuk mendapatkan DNA yang ada pada Dayana, tetapi hal itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri saja,

Dayanapun hanya menganggukkan kepalanya kala Kayvan bercerita asal mula bagaimana ia mengetahui status Dayana yang seorang Kentara itu.

Malam terus semakin larut, tapi kedua kakak-beradik yang telah terpisah cukup lama itu masih menghangatkan obrolan mereka, Kayvan yang terus bercerita selama 10 tahun yang mereka hadapi, dan Dayana yang hanya bisa tersenyum atau terkadang sedikit tertawa kala ia mendengarkan beberapa cerita yang Kayvan alami.

Hatinya menghangat, perasaan yang selama ini tidak ia rasakan, kembali ia rasakan lagi, bohong rasanya jika saat ini Dayana tidak bahagia, bohong rasanya jika saat ini ia sangat ingin menikmati semua perhatian serta kasih sayang yang para masnya itu kasih, Dayana menikmati ini semua. Sangat amat menikmati, hingga rasanya senyum diwajahnya beberapa hari ini ingin selalu ia patrikan pada wajahnya.

thirtieth chapt. -

Arvel menyeruput americano yang dibawa oleh kembarannya beserta sepupunya itu, matanya membaca beberapa pertanyaan yang telah diajukan oleh beberapa mahasiswa kepadanya untuk sesi terakhir yang memang biasanya diisi oleh pertanyaan acak itu,

“Akhirnya,” ujar Beno, teman satu angkatan Arvel dikampus, sekaligus memang temannya dengan Domicia sedari masih di SMA itu

“Akhirnya apaan?”

“Akhirny kita disesi terakhir juga maksudnya,”

Arvelpun berohria seraya tersenyum menampilkan kedua lesung pipinya,

“Katanya nih Vel, gue dapet bocoran dari mba produser, katanya sih pertanyaan buat kita yang hari ini lumayan berat,”

“Lumayan berat? Apa nih? Pertanyaan tentang mata kuliah?”

“PALA LO!” ucap Beno dengan sedikit nada tingginya, membuat semua orang yang berada di studio itupun ikut tertawa,

Arvel dan Benopun membaca pertanyaannya didalam hati mereka, “Buset. Ini mah udah bukan lumayan lagi, berat banget ini mah,”

“Seberat dosa lu gak Vel?”

“Dosanya Aidan lah,” ucap Arvel asal membuat Aidan yang berada diluar on air radio itu langsung melihatnya dengan tatapan tajamnya,

“Okelah, pertanyaan untuk penutup kita dimalam hari ini, dari et anissantara, pertanyaannya, “Pernah gak sih lo ada dititik dimana lo ngerasa itu adalah titik balik lo?”

“Wah, berat kan sobat?”

“Kaya beban korupsi,”

“Yah gak ikut-ikutan gue kalo lu ilang besok ya,” Arvel mengucapkannya seraya tertawa kembali, dengan sedikit menyenggol bahu Beno, “Lo duluan deh sob,”

Benopun akhirnya bercerita tentang kisahnya dimana ia merasa titik baliknya ketika semasa SMAnya ia hampir saja dikeluarkan dari sekolah, karena kenakalannya, yang langsung membuat Arvel juga ikut mengomentari dikarenakan ialah yang menjadi saksi dari peristiwa itu,

“Sekarang elu lah”

“Gue apa ya?” Arvel terdiam sebentar seraya memikirkan kalimat kalimat yang akan ia keluarkan, “Titik balik diri gue, gue rasa waktu orang tua gue pergi,” ucapnya sedikit memberi jeda,

“Waktu sebelum orang tua gue pergi, gue ngerasa ya yaudah, gue kan punya abang ya, dan gue juga punya kalian tau lah, Cia, kembaran gue yang gue akuin emang dia lebih dewasa dari gue, walaupun notabenenya gue lebih tua berapa menit sih ya, terus ya itu gue ngerasa ketika orang tua gue pergi, apa ya peran abang yang selama ini gak terlalu gue hirauin tuh jadi tiba tiba muncul, apalagi waktu itu adek adek juga masih 5 atau 6 tahun gitu, jadi ya gitu,”

“Apa sih Vel yang lo rasain? Maksudnya sampe lo tuh ngerasa “oh gue perlu berubah,” gitu,”

“Diary nyokap, ternyata selama gue hidup ada satu diary dia yang nyeritain semua sifat gue dan semua kejadian yang gue alamin, gak cuman gue sih tapi abang gue, sama ade gue juga ada disitu.”

“Dan sampe akhirnya juga, abang gue yang paling tua dikeluarga, ngucapin motto keluarga gue, yang intinya artinya apapun yang terjadi keluarga nomor satu, dan disitu kaya iya gimanapun gue dan apapun yang bakalan kejadian, keluarga gue prioritas gue. Lo tau kan Ben dulu gue segimana young and free nya, nongkrong sana sini, bahkan gue sama Cia pun ada kali sehari ketemu cuman sarapan doang, tapi semenjak orang tua gue meninggal gue ngerasa walaupun gue punya abang, tapi nanti dia bakal punya keluarga sendiri kan, jadi ya gue mikir sampe waktunya gue berkeluarga nanti gue cuman punya Cia,” ucap Arvel seraya melihat kearah kembarannya itu, Arvelpun terkekeh, “Iya dan Aidan juga,” ucapnya seraya tertawa lagi,

Beno dan orang-orang disekitarnyapun merasa takjub dengan seseorang yang baru saja selesai berbicara tadi. Pasalnya, ketua himpunan mahasiswa ilmu komunikasi ini dalam kesehariannya terlihat santai dan urakan, tapi ternyata banyak pikiran dewasa yang dipendamnya sendiri.

“Apaan sih anjir si Arvel geli banget,”

“Iya anjir so oke banget tuh bocah,”

ucap Cia dan juga Aidan bergantian.

chapt. twenty-nine -

Basudeo, Aydan, dan Dayana keluar dari mobil yang sedari beberapa menit lalu dikendarai oleh Aydan, sedangkan Affandra dan Edhan berada dimobil warna hitam milik Edhan itu, “Gugup amat kaya mau UN,” ucap Aydan yang langsung merangkul bahu Dayana, “Santai aja,”

Mereka berlimapun memasukki rumah yang Kentara bersaudara tempati itu,

Terlihat Kegan, Byantara dan juga Ramadella sedang berbincang diruang makan yang memang berbatasan dengan ruang keluarga yang langsung mereka temukan ketika baru memasukki pintu kayu yang didesign khusus oleh Kayvan itu,

“Mas...” ucap Basudeo dengan lemah ketika melihat ketiga masnya itu,

Byantara, Kegan dan juga Ramadella langsung menghampirinya, namun berlalu melewatkannya,

“Padahal tadi gue yang manggil ya,” ucap Basudeo dengan nada kesal yang dibuatnya,

“Sadar diri aja,” Affandra mengucapkannya seraya berlalu menyusul Edhan yang sudah terlebih dahulu kelantai atas,

“Kamu gapapa kan?”

“Ada yang luka gak?”

“Masih shock ya?”

Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan kepada Dayana membuat Dayana sedikit bingung untuk menjawabnya,

“Satu satu dong para mas yang tampan, kasian si Dayananya,” ucap Aydan yang masih merangkul Dayana itu,

Kegan langsung memegang kedua lengan bagian atas Dayana, lalu memutar dan membalikkan tubuh Dayana, melihat dengan jeli tubuh Dayana dari atas hingga bawah, Dayana yang diperlakukan seperti itu menampakkan wajah bingungnya yang langsung dimengerti oleh Aydan, “lagi scanning dia,” ucap Aydan ketika melihat wajah bingung dari Dayana,

Dayanapun hanya bisa pasrah ketika Byantara dan Ramadella juga ikut melakukan hal demikian,


Dayana duduk dipinggiran tempat tidur kamar yang ia tempati dirumah ini, suasana coklat yang mendominasi kamar serta tempat tidur yang cukup besar berada ditengahnya, dan beberapa komponen lainnya menghiasi kamar itu,

Ketukan pintu menyadarkan Dayana dari lamunannya, setelah bersuara mengizinkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk, wajah seorang Davendrapun menyembul dari balik pintu,

“Kamu gakpapa kan?” ucapan Davendra langsung dibalas anggukan oleh Dayana dengan tersenyum, “Baguslah, oh iya nih,” Davendra memberikan sebuah tas kertas berwarna coklat yang lumayan berat kepada Dayana yang langsung disambut oleh Dayana, “Isinya skincare, cukuplah buat seminggu, kalo kurang bilang aja, soalnya gak mungkin mas bawa semua,” setelah mengucapkan hal tersebut yang membuat Dayana terkejut Davendrapun berpamitan keluar dari kamar itu,

Selang beberapa menit, pintu kamarnya diketuk kembali oleh seseorang, yang langsung dibuka sendiri oleh Dayana,

Domicia yang langsung berhadapan dengan Dayana setelah dirinya membuka pintunya, langsung memberikan secangkir teh kepadanya, “Biar enakan badannya, kamu pasti masih kaget banget kan tadi? Walaupun mas Kegan tadi bilang kamu gapapa sih,”

Dayana langsung menerima cangkir putih yang disodorkan kepadanya, “Makasih mas,”

“Yaudah istirahat ya,” ucap Domicia lalu berlalu setelah sebelumnya mengusap lembut pucuk kepala Dayana,

“DAYANA!! DAYANA!!”

“DAYANA GAPAPA??”

Arvel dan Aidan yang baru sampai hendak menghampiri Dayana yang masih terdiam didepan pintu kamarnya itu, langsung ditahan oleh rentangan tangan Domicia, agar mereka tidak bisa menghampiri Dayana, “Mau tidur dia udah besok aja besok,”

“Tapi dia gapapa?”

“Gak ada yang luka kan?”

Domicia menghela napasnya, “gapapa udah besok lagi,” ucapnya dan langsung mengisyaratkan Dayana untuk segera memasukki kamarnya,


Waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat 21 menit, tetapi Dayana masih belum bisa memejamkan matanya barang sedetikpun, ia pun langsung terbangun dari posisi tidurnya,

Berpikir sebentar apa yang harus ia lakukan, dan seperkian detik kemudian, dirinya bangun dan berlalu untuk keluar kamarnya,

Ia berjalan menyusuri rumah, hingga berakhir dihalaman belakang rumah tersebut,

Dirinya terkejut kala tidak jauh dari posisinya ia melihat sosok laki-laki lumayan tinggi terduduk dengan rokok diapitan jarinya itu,

“Duduk sini,” ucap laki laki tersebut kala Dayana hendak pergi dari sana,

Kegan, yang memang sedang duduk dibangku dihalaman belakang keluarga itu langsung mematikan puntung rokok miliknya kala Dayana semakin mendekat,

“Kenapa belum tidur? Belum bisa ya?” ucapan Kegan langsung dibalas dengan anggukkan oleh Dayana, Keganpun tersenyum lembut, “10 tahun lalu para mas mu juga gitu, di hari pertama sampai hari ketiga kita pindah, kita semua malah begadang nonton film sampai akhirnya satu persatu mulai terbiasa tidur dirumah ini,”

Dayana terdiam membiarkan Kegan bercerita sebentar, ia sebenarnya sudah mengetahui kisah awal semua anggota keluarga ini mengapa mereka bisa tinggal bersama, seluruh sikap atau sifat dari mereka, hingga beberapa kebiasaan mereka Dayana sudah mengetahuinya, dari siapa lagi kalau bukan seorang Ailesh Reka Kentara,

“Kamu beneran gapapa?” ucapan Kegan berhasil membuat Dayana sedikit terkejut dari lamunannya,

“Gapapa kok mas, tadi kan ada mas Deo, mas Edhan sama mas Aydan juga, dan mereka juga nenangin aku gitu,” ucap Dayana seraya tersenyum,

Kegan yang mendengar itu langsung tersenyum, merasa bangga dengan para adik laki-lakinya itu, dan sekaligus merasa bersyukur, karena ternyata didikannya dan para masnya sedikit berhasil membuat para adiknya seperti itu,

“Kalau ada apa-apa mulai sekarang cerita aja, jangan dipendem sendiri, jangan nyoba buat diselesaiin sendiri juga, kamu udah punya 14 orang sekarang yang bakalan jagain kamu dan dukung kamu, jadi jangan ngerasa buat sendiri,” ucapan Kegan langsung membuat Dayana mengalihkan pandangannya kedepannya dan tersenyum seraya menggukkan kepalanya, “Gak semuanya hal harus kamu telan mentah-mentah sendirian Day, apalagi sekarang, yang ada kalau kamu telan mentah-mentah sendiri, kamu bakalan jadi kaya daging dikandang harimau,”

“Harimaunya ada 14 lagi ya mas,” ucap Dayana seraya tertawa, dan langsung membuat Kegan yang mendengarnya ikut tertawa juga,

Malam ini mereka larut dengan obrolan-obrolan ringan mereka, membuat Kegan sedikit bersyukur karena dapat mengetahui diri seorang Dayana lebih jauh lagi.

chapt. twenty-eight -

Kedua orang gadis dengan pakaian berbeda duduk berhadapan dipinggir ruangan cafe tersebut, keduanya terlihat sedikit gugup, seperkian menit diantara mereka belum ada yang memulai percakapan,

“Day..” ucap gadis dengan dress berwarna putih dengan surai coklatnya terdengar sedikit lemah oleh Dayana, membuatnya mengalihkan tatapan matanya kearah netra kecoklatan didepannya juga,

“Gue...” sedikit jeda dibiarkan oleh gadis itu, ekspresi ragu terlihat jelas tercetak diwajah gadis dengan netra kecoklatan didepan Dayana, “Gue mau minta maaf Day,” ucapnya lagi setelah menggelengkan kepalanya guna menghilangkan keraguan dalam dirinya, “Gue minta maaf, maaf kemarin gue keterlaluan banget sama lo, dan maaf juga gue gak ngertiin dari sisi lo, seharusnya gue sebagai sahabat ngertiin lo juga kan Day? Gue emang bego banget kemakan sama emosi, padahal lo udah sering banget bilang kalo gue gak boleh gitu, tapi ujungnya tetep aja,” ucap gadis berpakaian putih itu, Kayana.

Kayana menghela napasnya, “Gue minta maaf ya, gak seharusnya gue ngatur kehidupan lo. Kaya yang lo pernah bilang, hidup kita, kita yang jalanin, kita yang nentuin, kita juga yang mutusin akan seperti apa, iya kan?” ucapan Kayana diakhiri dengan senyuman keraguan diwajahnya, pasalnya ia takut permintaan maafnya tidak diterima oleh sahabatnya ini,

Dayana tersenyum, “Gue juga salah kok Kay, terlalu kebawa perasaan banget, dan gue juga harusnya ngerti kalau gue ada diposisi lo gimana, gue harusnya ngerti kalo dimasalah dan keadaan ini bukan gue doang yang jadi korbannya, bukan gue doang yang menderita,” ucapan Dayana langsung dibalas gelengan kepala oleh Kayana,

“Enggak lo gak salah, lo berhak merasa sakit Day,”

“Enggak, gue juga salah,”

Keduanya pun langsung tertawa karena merasa hal tersebut lucu untuk keduanya, persahabatan merekapun kembali menyala setelah sebelumnya redup,

“Tapi lo bahagia kan sekarang?”

Dayana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, “I guess,” ucapnya sedikit ragu,

Well that's good for you,tapi mohon maaf nih Day, sekarang lo kemana-mana jadinya bawa bodyguard gitu?” ucap Kayana seraya mengarahkan dagunya kearah meja disebrangnya yang berisikan keempat laki-laki yang terus-terusan menengok kearah mereka,

Dayana tertawa sedikit, tanpa ia menengokkan kepalanya, ia mengerti siapa yang Kayana maksudkan, “Tadi ada sedikit masalah gitu lah, makanya ya gini,”

Kayana menatap Dayana dengan tatapan bertanyanya dengan alisnya yang sedikit ia angkat, menampakkan ekspresi penasarannya, “Cerita.” tegasnya kepada gadis bernetra hitam legam, dengan kaos putih yang dipakainya,

Dayana pun tersenyum, lalu mulai sedikit demi sedikit bercerita akan kejadian yang ia alami bersama dengan para saudaranya tadi,

Kayana tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut sekaligus khawatirnya, ia langsung mengenggam tangan didepannya, “Lo gapapa kan tapi? Beneran gapapa kan?” ucapnya dengan tergesa,

Dayana tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, “Gapapa, gue gapapa kok, untungnya ada mereka bertiga sih, jujur gue bersyukur banget Kay,” akhirnya Dayana menyampaikan rasa bersyukurnya kepada sahabat didepannya, “Gue bener-bener bersyukur banget ada mereka,” Dayana tersenyum, “Bersyukur punya mereka sekarang,”

ucapan Dayana membuat kedua sahabat itu tersenyum, Kayana mengerti sekarang bagaimana sahabatnya ini bisa menerima sekumpulan laki-laki yang baru dikenalnya dengan mudah, ia juga merasa bersyukur karena sekarang sahabatnya ini tidak sendiri, dan ia juga bersyukur sahabatnya ini ada yang lebih bisa menjaganya.

chapt. twenty-seven -

Citt

Bunyi decitan dari ban yang bergesekkan terdengar jelas dan kencang, tubuh keempat penumpang yang masih lengkap menggunakan kemeja putih dilengkapi dengan vest berwarna abu muda dan dilengkapi blazer abu tua itu terhuyung kedepan,

“LO GILA YA DEO?!”

“Sorry sorry mas Kayvan yang nyuruh ini,” ucap Basudeo yang masih memakai earphonenya, yang memang terhubung dengan Kayvan diujung sana,

“Makasih mas,” ucap Dayana, tubuhnya terselamatkan karena tangan kiri Basudeo dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terhuyung kedepan, kalau saja tidak ada rentangan tangan didepannya, bisa ia pastikan tubuhnya sudah terbentur dashboard didepannya,

Basudeo hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya,

Sekarang kalian diem dulu dimobil, jangan keluar, kunci pintunya aja, ucap Kayvan memerintah lagi diujung telepon sana,

Brakk

suara tabrakan kencang terdengar dari arah belakang, Basudeo dengan sigapnya merentangkan kembali tangan kirinya yang terbebas dari apapun,

Edhan yang tepat dibelakang Dayana mengelus lembut lengan kanan bagian atasnya, menyalurkan ketenangan dari dalamnya, sedangkan Basudeo langsung menggenggam tangannya,

Halo Deo? Baik baik aja kan? Siapa yang nabrak? suara Kayvan terdengar dari ujung sana,

“Rush, hitam, B 2889 JIK, sticker KF bulet hitam dikaca belakang,” ucap Basudeo kepada Kayvan, menjabarkan mobil yang baru saja menabraknya yang tak lama langsung pergi itu,

Ada mobil depan lo, platnya apa? Mobilnya apa?

“BMW, biru, B 28 BTN, itu mas Tio?” ucapan Basudeo langsung dibenarkan oleh Kayvan diujung telfon,

Keduanya sama sama menghela napasnya, disusul oleh Edhan, dan Aydan yang juga berada disana,

Edhan dan Aydan yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini terlihat lebih tenang, terlebih Basudeo juga yang masih menggenggam tangan Dayana dengan erat, sedangkan Dayana, lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan apapun yang ada dipikirannya,

Basudeo mengalihkan pandangannya kearah Dayana, lalu tersenyum, “kita turun ya,” ucapnya dengan nada yang lembut,

Tak lama dari itu, pintu mobil disamping Dayana terbuka, Aydanpun langsung membuka seatbelt yang Dayana pakai, lalu menuntunnya untuk keluar dari mobil,

its okay, we're here,” ucap Aydan dengan nada sedikit lembut yang hanya bisa didenger oleh Dayana saja,

“Mas,” ucap Edhan dan Basudeo bersama, Tio langsung membalasnya dengan sedikit menundukkan kepalanya, walaupun mereka berempat jarak usianya dibawahnya tetapi dalam pekerjaan, mereka masih atasannya,

“Silahkan yo, semuanya udah dicek, biar mobil yang ini saya yang bawa,”

“Biar saya aja mas yang bawa,” ucap Edhan yang langsung menyambar kunci yang diberikan Tio kepada Deo, “Lo dibelakang aja sama Aydan,”

Aydan yang masih merangkul pinggang Dayana langsung membuka pintu mobil penumpang didepannya, membantu Dayana untuk duduk dan tak lupa memakaikan seatbelt kepadanya, “Hai, look at me,” pinta Aydan yang langsung dituruti oleh Dayana, Aydan mengenggam kedua tangan Dayana yang berada dipangkuan Dayana itu, “You're save with us, okay? Kamu gak sendiri ada kita disini,” ucapnya seraya tersenyum manis kepada gadis bermata hitam legam didepannya yang masih terdiam tidak membalas apapun, tatapannya masih kosong, dan lidahnya juga masih kelu, serta tangannya yang sedikit dingin, menandakan dirinya sangat terkejut akan kejadian yang ia alami,

Basudeo masih terdiam pula, seraya banyak hal yang ia ketikkan kepada kakak tertuanya untuk melaporkan situasinya saat ini,

Edhan mengusap surai hitam sedikit kecoklatan itu dengan lembut, membuat sang empunya mengalihkan perhatian dari Aydan yang masih menggengamnya dengan tersenyum itu, Edhan hanya tersenyum dengan mata bulan sabitnya, ketika matanya itu bertemu dengan netra hitam legam milik Dayana, dengan masih mengusapkan tangannya pada surai hitam kecoklatan itu, membuat Dayana lambat laun tersenyum,

“Nah gitu dong, berangkat lagi kita,” ucapan Aydan membuat Basudeo langsung melihat kearah depannya, dan pemandangan yang dilihatnya membuat dirinya tersenyum senang, ntahlah pandangan didepannya membuat dirinya menghangat,

“Mesra-mesraan aja terus lu bertiga, gue disini patung kok,” Basudeo mengucapkannya dengan nada merajuk yang dibuatnya, membuat ketiga orang yang dimaksudnya langsung mengalihkan pandangan kearahnya,

“Gue kira lo shock juga anjir,”

“Biasanya sok jagoan lo,”

ucap Aydan yang langsung disusul oleh Edhan tanpa jeda, membuat ketiganya sedikit tertawa, dengan Basudeo yang membuat ekspresi sedikit dibuat seakan merajuk kepada ketiganya.

De[a]ry – Yaya -

“YAYAAA IM HOMEE,” teriakan Dery membuat Kanaya, gadis yang sudah 3 tahun ini Dery kencani, sedikit terkejut.

“Tara!! Liat aku beli apa!!” ucap Dery dengan nada girangnya, yang langsung ditatap sinis oleh Kanaya, atau akrab disapa dengan Yaya ini,

“Berisik Dery, ngomongnya santai aja,”

“Tau lu Der, heboh bener,”

“Tau lu kaya baru pertama kali anniversarry aja,”

Derry melihat Luki dan Ajun yang memang satu apartement dengan dirinya dengan sinis, “Lo berdua sirik aja makanya julid,”

“Idih ogah gue sirik sama lu,” ucap Ajun membalas Dery, yang langsung membuat keduanya terlibat keributan kecil seperti biasanya,

“Haeuh, kebiasaan banget deh lu berdua, diem bisa gak lu berdua?” Tian bersama dengan Abhi yang baru memasukki ruang tengah langsung terlihat kesal karena langsung mendapati Dery dan Ajun yang sedang terlibat ribut kecil itu, “Oi Yaya, ngelamunin apa sih?”

“Hah? Kenapa?”

Ucapan Yaya langsung membuat Ajun, Tian, Abhi, Luki dan juga Xavier serta Derry sedikit tertawa ditempat mereka seraya melihat kearah Yaya, “Kamu ngelamunin apa sayangku?” ucap Dery mendekat kearah Yaya seraya mengusap bahunya dengan lembut, “Ngelamunin apa cantik?”

“Lu bisa gak gausah cringe gitu?!” ucap Xavier kepada Dery yang saat ini masih bersandar dibahu Yaya.

“Gue tau! Lu pasti lagi flashback ya? Gara-gara mekdi sama pizza?”

“Ih kamu jadi flashback ya? Aku juga niatnya gitu hehe makanya beli ini, gara-gara pizza sama mekdi kita jadi bisa pacaran,” ucap Dery seraya memeluk bahu Yaya secara erat,

“Iya ya, kalo gak gara-gara pizza aku dimakan kamu sama mereka gak bakal deket kayanya,”

“Betul,” ucap Dery dengan sedikit nada tidak jelas, karena mengucapkannya seraya mencium bahu milik Yaya,

“DERRY ANJIR!! BERENTI GAK LU?!”

“GELI BANGET KENAPA SIH?!”

“GUE CABUT AH LAMA-LAMA ANJIR,”

Ucap seluruh teman-teman Dery secara bergantian, membuat Yaya hanya bisa tertawa sedangkan Dery kembali terlibat dengan keributan yang lebih besar saat ini.

chapt. twenty-six -

Byantara menaruh semangkuk mie ayam bikinannya didepan Arvel yang baru saja duduk dimeja makan keluarga Kentara itu,

“Aidan mana, Vel?” Davendra langsung menghampiri Arvel yang sedang membubui mangkuk mie ayamnya dengan Kegan dan Byantara yang telah menyantap mie ayam mereka terlebih dahulu,

“Di atas mas, ntar gantian sama gue,” ucap Arvel yang langsung mengaduk semua isi dimangkuk didepannya itu,

“Mas ke atas ya,” Davendra dengan cangkir putih digenggamannya, dan segera berlalu setelah menepuk dengan pelan bahu Arvel, Kegan dan juga Byantara secara bergantian,


Domicia sedikit terkejut kala bahunya tiba-tiba sedikit berat terasa kain selimut yang biasanya dipakai oleh ibunya untuk menenangkannya tersampir dibahunya, “Thanks mas,” ucapnya setelah menangkup cangkir putih bergambar kelinci setelah tadi tiba-tiba cangkir itu berada dihadapannya, ia sudah tau dan sangat hapal dengan tangan yang memberinya cangkir putih tersebut, bagaimana tidak, ia sangat hapal dengan tangan yang tersampir sebuah gelang merah seperti kain rajut dengan liontin huruf “TM” ditengahnya, yap, bagaimana ia bisa lupa dengan gelang yang biasa mendiang ibunya pakai, dan sekarang memang selalu dipakai kemanapun oleh kakak tertuanya itu,

“Padahal enakan susu kurma dingin,” ucapan Davendra menghamburkan lamunannya tentang kedua orangtuanya itu,

Domicia tersenyum seraya menyesap minumannya itu, “Bener ya mas, kata banyak orang, makin kita dewasa tuh ada banyak hal dihidup kita yang harus kita ikhlasin dan di-gapapa-in,”

Davendra menganggukkan kepalanya, “Lebih baik kita ikhlasin, daripada kita harus kehilangan diri kita dan malah jadi beban buat ngelangkah kedepannya,”

Domicia terdiam, lidahnya kelu, matanya mulai memupukkan buliran air dipelupuknya,

“Walaupun banyak yang bilang hasil gak akan mengkhianati usahanya, tapi tetep aja apa yang kita anggap terbaik, apa yang kita anggap suit us well, belum tentu juga dianggap kaya gitu sama semesta dan tuhan, kadang udah usaha sampe mampus pun, kalau bukan jalannya ya bukan,”

Tangis seorang Domicia pecah ketika Davendra mengakhiri ucapannya, dirinya membeku kala tangan seseorang disampingnya merangkum tubuhnya, ntah mengapa rangkuman kedua tangan yang saat ini merangkum tubuhnya sehangat yang dia inginkan, sehangat yang pernah ia rasakan dulu sewaktu mendiang ibunya masih bisa bebas memeluknya,

“Cia kangen mommy mas,” ucapnya tersedu dengan semakin menenggelamkan kepalanya lebih dalam untuk dirangkum oleh laki-laki yang terpaut jauh umurnya dengannya,

Ingin sekali Davendra berteriak mengatakan hal yang sama, tapi ia terus menahannya, karena tidak mungkin ia melakukannya didepan adiknya yang seperti ini, tidak saat adiknya sedang kecewa akan dunia yang biasanya berpihak kepadanya, tidak saat hal yang selalu adiknya impikan harus terkubur dalam dalam, tidak, tidak saat ini.

Apalagi ucapan Rama, padanya dan Kayvan sepuluh tahun lalu juga selalu terputar dikepalanya, “Dari mulai detik ini, kita adalah batu, yang harus kokoh dan tetap berdiri walaupun apapun menerpa, kita baja pelindung, kita naga yang melindungi istananya,” ucapan itu terus terulang hingga kepala sang adik mulai timbul dipermukaan,

“Mas, Cia egois gak sih, kalo masih tetep maksain dicambridge padahal udah ditolak beasiswanya?” ucapan Cia langsung dibalas senyuman oleh Davendra,

“Enggak, lagian ngapain sih kamu beasiswa segala? Kuliah sekarang beasiswa, cambridge juga ngambil beasiswa, dikira para mas mu gak bisa gitu biayain kamu?”

Domicia terkekeh kala mendengar jawaban dari masnya itu, “Kalo gue dapet beasiswa tuh ada kebanggan tersendiri mas, ya walaupun banyak yang ngecap anak beasiswa itu down class tapi tetep aja, kalo beasiswa tuh berarti gue ngandelinnya otak, bukan fisik,” ucapannya langsung dibalas usapan acak dikepalanya oleh laki-laki yang sekarang sudah berpindah duduk disampingnya itu, didaerah balkon didepan kamarnya itu,

“Tapi mas,” ucapannya terhenti sebentar, sehingga membuat seorang Davendra langsung mengalihkan pandangannya kearah adiknya itu,

Davendra tersenyum kala melihat adiknya itu berpikir, ia paham apa yang saat ini dipikirkannya, ia juga paham apa yang akhir-akhir ini sedang berperang dalam dirinya, “Semua keputusannya itu ada di kamu, kamu maunya gimana, ya itu terserah kamu, kamu yang bakal jalanin, kamu yang bakal lakuin semuanya, jadi ya terserah kamu,”

Domicia tersenyum mendengar jawaban dari masnya itu, dirinya semakin mantap akan pilihannya, iapun langsung tersenyum lebih lebar dan melihat kelangit diatasnya itu,

“Jadi?”

“Cia milih Arvel, kemanapun Arvel pergi Cia bakal ikutin, bodo amat mau dibilang annoying atau apa kek pokoknya ikut Arvel,” ucap seorang Domicia dengan keyakinannya,

Davendra yang mendengarnya hanya bisa tertawa sedikit karena ia merasa seseorang disampingnya saat ini adalah bukan seorang remaja laki-laki berumur 19 tahun, tapi seorang anak laki-laki berumur disekitaran 5 hingga 7 tahun, dengan kaos biru bergambar kartun favoritnya, ya, seorang Domicia dengan segala pemikiran dewasanya masih menjadi seorang adik kecil dimata seorang Davendra, kakak tertuanya.