chapt. thirty-seventh -

Edhan menyalakan rokok yang telah ia apit dengan kedua jarinya sedari tadi, sedangkan Aydan hanya menatap langit sore yang lambat laun menguning itu,

“Biasanya rokok gue diambil asal nih,” Edhan mengucapkannya seraya membuang kepulan asap yang sedikit mengandung bebannya itu saat ini,

Affandra tertawa singkat, ia sangat paham siapa yang Edhan maksudkan, “Iya terus abis itu lu berdua sungut-sungutan,” Aydhan, suara Aydhan yang menanggapi ucapan asal Edhan,

Affandra hanya bisa merespon senyumnya yang terlihat dipaksakan, “Seminggu loh tanpa dia,”

“Lagi asik nih dia main-main sama eyang kayanya,” Affandra menepuk pundak Aydan yang disampingnya dengan asal setelah mendengar ucapan dari Aydan tadi,

Affandra berdecak singkat, “Yo jangan kelamaan main disananya, seminggu gak ada lo kaya kuah indomienya Aydan,”

“Pucet?” Edhan bertanya kearah Affandra, yang langsung dibalas oleh gelengan kepala sang empunya,

“Hambar,”

“YAELAHH SA AE LO AH, DANGDUT!” ucap Aydan sedikit meninggi langsung dibalas tawa oleh kedua saudaranya disana,

“Maafin gue ya Fand, belum bisa bawa Deo,”

Affandra menggelengkan kepalanya kala Aydan mengucapkan kalimat pedihnya tadi seraya menatap kearah gedung tinggi didepannya yang dihiasi oleh langit kekuningan kotanya itu, “Santai. Gue tau kok dia bakal balik, gak mungkin dia ninggalin gue sendirian lama-lama,” ucap Affandra seraya tersenyum, “Tapi Ay, lo kok bisa kaya gitu sih,” Affandra mengucapkannya dengan penuh keheranan dinada suaranya

Aydan mengangkat kedua bahunya, “Gue gak ngerti, semenjak yang 3 tahun kita tinggal bareng, gue jadi sering mimpiin kejadian yang bakal kejadian sama kita, bahkan yang terakhir itu yang mas Cia drop apa yang masalah Deo mabok itu ya, pokoknya gitu deh. Terus sama tadi, yang masalah Day. Itu aja gue shock bakal gitu,”

“Tapi gue tau itu kelakuan lo, Ay,” ucap Edhan seraya membuang kepulan asapnya lagi, “Gue tau itu kerjaan lo,”

“Lo tau darimana dah?” tanya Affandra kepada saudaranya itu,

Edhan mengangkat bahunya, “Ntah, feeling aja” ucapnya lagi, yang hanya dibalas anggukan oleh kedua saudaranya,

Masing – masing dari mereka tau, bahwa kekuatan perasaan antar mereka dengan kembaran mereka satu sama lain tidak bisa dipungkiri pasti akan terasa sangat kuat dalam beberapa waktu, dan biasanya apa yang mereka rasakan akan selalu tepat sasaran, seperti saat Affandra yang tiba-tiba gelisah ntah kenapa pada malam ketika Basudeo menabrakkan dirinya sendiri.