chapt. thirty-six -

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari, suasana ruangan besar yang dipenuhi beberapa orang itu tampak tenang dan sunyi, hanya tersisa suara jam dinding yang berdetak dan suara monitor dari mesin kotak yang merekam jejak detak jantung kedua sosok yang sedang bertarung dengan hidupnya,

Kayvan mengalihkan pandangannya dari kedua sosok adiknya yang sedang berjuang dengan bantuan alat bantu pernapasan atau yang biasa disebut ventilator itu, “Lu tidur gih, udah jam 1. Udah seminggu ini lu kalau malem gak tidur Kay, Gak baik kaya gitu tuh,”

“Gapapa mas, gue oke kok,”

Ramadella menghela napasnya, “Ada gue, Daven sama Kegan kok yang melek sekarang, lu tidur aja,” ucapnya kepada Kayvan, tetapi Kayvan masih dengan pendiriannya, dan segera menggeleng,

“Gue mau jadi orang pertama mas yang bilang hebat ke Deo,” ucap Kayvan menatap nanar kearah adik bungsunya itu,

“Kalau dia sadar, gue yang jamin lo bakal jadi orang pertama yang ngobrol sama dia,”

“Deo juga gak bakalan suka mas kalo lo ngorbanin diri lo sampe segininya,” Kegan kini bersuara, ikut membantu meyakinkan kakak tertuanya itu. Ia sangat tau jika kakak tertuanya ini sama seperti Davendra dan Ramadella, keras kepala.

Kayvan akhirnya menganggukkan kepalanya, melihat sekali lagi kearah Ramadella dan Davendra, juga Kegan yang langsung dibalas anggukkan oleh mereka bertiga,

Memang selama seminggu penuh ini dia hanya bisa tertidur disiang hari, itupun ketika semua saudaranya telah benar-benar terjaga, dan itupun tidak lebih dari 2 jam, “Cepet bangun ya, jagoan.” Kayvan mengecup puncak kepala laki-laki hebat yang menyandang status adik bungsunya itu, “Cantik jangan lama lama tidurnya ya, masnya kangen,” Kayvan melakukan hal yang sama pula kepada perempuan cantik bersurai hitam yang memang bersebelahan dengan tempat tidur adik bungsunya itu,

Ramadella menghampiri tempat tidur yang baru saja Kayvan singgahi itu, mengambil duduk disampingnya, lalu mengenggam satu kepalan tangannya dengan kedua tangannya yang ditautkan, “Hai,” ucapan singkat nan berat ia lontarkan kepada perempuan bersurai hitam yang sedang terpenjam itu, Dayana. Ramadella tersenyum singkat, lalu mengelus lembut surai milik adik perempuannya itu, “Lagi asik ya ketemu sama mamah papah disana? Atau lagi ngobrol sama eyang? Gapapa ngobrol sebentar sama mereka, tapi abis itu balik lagi kesini, mas mohon. Cantik, pusat semestanya mas, pulang ya, jangan lama lama tidurnya,” ucap Ramadella dengan getaran yang ada pada setiap kalimatnya, air mata yang ia tahan selama ini akhirnya luruh juga, ia tundukkan kepalanya seraya menciumi telapak tangan yang ia genggam saat ini,

Davendra dan juga Kegan menyaksikannya, bagaimana lamban laun pohon yang selama ini kokoh akhirnya tumbang secara perlahan, Ramadella benar, kini pusat semesta mereka sedang redup, mereka semua baru menyadarinya selama seminggu ini, bahwa kini orang yang sedang berbaring ditempat tidur itu telah merebut seluruh hati yang selama ini mereka biarkan larut dalam rasa sakit, selama beberapa bulan ini mereka tidak menyadari jika hati yang selama ini mereka biarkan gersang lama kelamaan menjadi hangat, hanya karena seorang perempuan yang tiba tiba datang ke kehidupan mereka,

Davendra mengalihkan pandangannya, diikuti oleh Kegan yang melakukan hal tersebut, berpura-pura tidak melihat apa yang Ramadella berusaha lampiaskan pada tangan yang ia genggam dengan keras, tanpa mereka sadari tetesan air mata juga ikut turun dipipi mereka, dan tanpa mereka sadari pula, ada beberapa pasang mata yang ikut meloloskan air mata mereka ketika mendengarkan isakan tangis Ramadella yang terasa pedih nan sakit itu, malam mereka kini dibanjiri oleh tangisan pohon yang selama ini menopang mereka.


Aydan keluar dari kamarnya, memasang earpodnya dengan lantunan suara Jeff bernat yang melantunkan lagu Call you minenya itu, matanya tiba-tiba fokus pada perempuan bersurai hitam yang sedang tersenyum seraya memakan sepotong rotinya,

“Mas Aydan mau?” Suara yang sangat ia kenali, suara yang sangat ia rindukan tiba-tiba terdengar ditelinganya,

“Mamih?” ucapnya memanggil perempuan anggun bersurai kecoklatan itu yang kini sedang menghampiri Dayana, “Kok ada-” bibirnya kelu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia masih menerka apa yang sedang terjadi, mengapa hanya ada Dayana disini, dan mengapa ibunya yang ia temui.

“Day, sekarang siap-siap berangkat ya, berangkatnya sama mas Aydan,” ucap suara lembut yang tadi memanggil Aydan,

“Mih, Deo-” ucapan Aydan terhenti kala tangannya digenggam oleh perempuan bersurai hitam dengan gaun biru langit, warna favoritnya, membuat dirinya semakin cantik, Aydan lalu mengalihkan pandangannya kearah perempuan tersebut yang langsung membuat perempuan itu tersenyum,

“Ayo mas, yang lain udah nungguin,”

ucapan terakhir dari perempuan bersurai hitam itu membangunkannya dari tidurnya, suara ramai nan panik langsung memasukki indra pendengarannya, seruaan para masnya dengan sangat terburu memanggil para medis untuk segera memeriksa seseorang yang baru saja kembali itu,

You're doing great, Ay. Tinggal satu lagi,” Edhan menepuk pundaknya pelan, menyadarkan dirinya bahwa kini ia sudah kembali kekehidupan nyatanya, jangan tanyakan apa yang terjadi pada Aydan, jika ia tau, ia juga pasti sudah menjelaskannya dengan segala keilmuan yang menjelaskan itu. Tapi nyatanya, ia dan juga Edhan juga tidak mengetahui kemampuannya ini dinamakan apa, mereka biasa menyebutnya ilmu ajaib, dimana seorang Aydan bisa beberapa kali memprediksikan kejadian yang akan terjadi pada saudara-saudaranya, sedangkan Edhan bisa memberikan saran yang akurat pada semua saudaranya, hanya berlaku pada Kentara bersaudara? Ya. Hanya berlaku dikalangan Kentara bersaudara.

Ntahlah itu kebetulan, atau memang Aydan seseorang “yang bisa” meramal masa depan.


Hai sebelumnya maaf banget ada kesalahan lagi pada narasi dan fake tweet sebelumnya. Harusnya keluarga Kayvan manggil orang tuanya Mamih Papih, tapi sebenernya apapun panggilannya kalo kalian bacanya penuh dengan hati tetap kerasa juga sih😘💙