chapt. thirty-ninth -

Matanya mengerjap beberapa kali, membiasakan cahaya masuk kedalam netra hitam kecoklatannya, mengusap beberapa kali kedua kelopak mata yang masih ia biasakan untuk terbuka, “Turun woy,” ucap suara bariton dari bangku depan, yang membuatnya merasa bingung kini ia berada didalam sebuah mobil yang ia sangat kenali, setelah sedikit lebih tersadar, ia alihkan langsung pandangannya kearah luar jendela yang berada disampingnya, hamparan pemakaman terdapat disana, ia mengecek dan memastikan pandangannya beberapa kali, bertanya tanya mengapa ia bisa ada disini,

Ketika ia telah turun dan berjalan singkat menjauh dari mobil yang tadi ia tumpangi, pundak kokohnya tiba tiba terasa berat, dialihkannya pandangannya kearah pemilik lengan yang berada diatas bahunya itu, “Deo?” ucapnya lirih, sang empu yang dipanggil hanya tersenyum dengan sedikit menaikkan dagunya bersamaan dengan kedua alisnya itu,

“Yo, kok kita disin-” ucapannya teralihkan dengan pandangan kesekelilingnya, tiba-tiba tubuhnya membeku, raganya seolah ditarik kedalam kenangan beberapa tahun lampau, tepatnya sepuluh tahun lalu kala dunianya dan dunia para saudaranya hancur bersamaan,

“Yo kok bisa,” ucapnya lemah, ia masih mematung, melihat kearah depannya sudah banyak orang yang berdiri sejajar seraya memegang dan merangkul pundak satu sama lain, bertujuan untuk menguatkan, kejadian didepannya benar-benar seperti sepuluh tahun lalu, hanya bedanya penampilan para saudaranya telah berubah lebih dewasa,

“Kenapa?” Aydan menolehkan pandangannya kearah seseorang yang sedari tadi hanya diam saja, “Yo, kenapa disini?” ucapnya sekali lagi karena ia ingin memastikan apa yang ada dipikirannya bertolak belakang dengan kenyataan yang ada, tetapi sayangnya seseorang yang berada disampingnya itu hanya tersenyum singkat,

“Tempat gue disini Ay,” bagai tersambar petir ucapan singkat itu sukses membuat seorang Aydan lemah,

“Enggak enggak, lo bercanda anjing, gak ada ya Yo, gue tampolin lu sumpah, gak ada anjir cerita kaya gitu,” ucap Aydan dengan nafasnya yang memburu, memegang kedua lengan bagian atas laki-laki yang kini telah menghadap kearahnya, “Yo please, ayo balik, gue janji gue bakal lakuin apapun terserah lo, tapi please ayo balik yo gue mohon, gue mau Deo gue pulang,” Aydan terus mencerca orang didepannya dengan ucapan memohonnya,

Tiba-tiba hentakan keras membuatnya tersadar, peluh keringat membasahi sekujur tubuh dan dahinya, “Ay! Aydan! sadar anjir woy woy!!” Edhan menepuk berkali kali pundak kembarannya itu,

Pandangan Aydan masih kosong, tetapi ia masih bisa melihat beberapa orang didepannya berlalu lalang dengan tergesa, “Enggak enggak Deo anjir enggak,” Aydan yang ingin segera bangun dari tempatnya yang kini terduduk disebuah sofa, langsung ditahan oleh seseorang yang tiba tiba langsung menabrak tubuhnya dan memeluknya dengan erat, wangi woody bercampur musk tercium masuk kedalam indra penciumannya, ia sangat hapal dengan wangi ini,

“Makasih Ay, makasih, sumpah makasih banget,” ucapan yang sedikit tidak jelas tetapi masih bisa ia tangkap dengan jelas karena jarak keduanya yang terkikis sempit, wajah seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuhnya itupun langsung menjauh, dengan mata yang sangat sembab akibat tangisannya, dengan bibir yang sedikit bergetar,

Aydan menengokkan kepalanya kearah Edhan, dengan wajah bertanya meminta penjelasan, “Deo balik Ay,”

ucapan singkat itu, berhasil membuat sekujur tubuh Aydan melemas, air matanya yang tidak ia rencanakan keluar begitu deras, dirinya menundukkan kepalanya dengan isakan yang begitu keras, pikiran hal terburuk yang tadi ia pikirkan seketika menyeruak begitu saja kala ia mendengar ucapan singkat dari kembarannya itu.

Basudeo mereka telah kembali, bersama dengan pusat semesta mereka yang kembali menyala juga.