forty-second chapt. -
Anak laki-laki dengan celana seragam berwarna coklat muda, dan dipadukan dengan hoodie maroon yang menutup seragam bagian atasnya terlihat gelisah ditempatnya, bagaimana tidak beberapa pasang mata kini tengah menatapnya tajam yang sedang berdiskusi dengan Affandra, dan Aydan tentang ekstrakurikuler yang dipimpin Aydan itu,
Basudeo terkekeh sedikit ditempatnya, melihat para masnya itu tidak habisnya menatap kearah temannya itu, “Kay, mending lo ajak pulang aja deh si Reyga,” ucap Basudeo kepada Kayana yang sedang mengupas jeruk untuk Dayana.
Tadi memang sehabis bel pulang berbunyi, Reyga, Kayana dan juga Fabian ikut dengan Aydan, Edhan, Ailesh dan Avanesh menuju rumah sakit, tetapi sayangnya Fabian memang harus pulang terlebih dahulu,
“Gimana mau ngajak pulang, lo gak liat itu mereka lagi serius banget,” ucap Kayana kepada Basudeo,
“Reyga, gimana kabar pak Surya Ardalan?” ucap Ramadella tiba-tiba memutus rantai keheningan diruangan ini,
“Opa baik mas,” Reyga mengucapkannya berusaha setenang mungkin,
Byantara membuka pintu kayu besar yang menjadi pintu utama diruangan itu, “Makasih ya mas,” ucapnya kesalah satu penjaga yang mengantarkan satu kerdus berisi minuman itu, “Nih Rey, diminum”
“Makasih mas,” Reyga sedikit menundukkan kepalanya kala Byantara memberikan minuman kepadanya,
“Masih suka main golf dia Rey?” ucap Ramadella kepada Reyga yang langsung dibalas anggukkan kepala,
“Masih mas, opa masih rajin main golf sama om Vian, papanya Kayana,” Ramadella mengangukkan kepalanya kala menerima jawaban seorang Reyga,
“Reyga aksel ya SMPnya? SMA juga ikut test aksel kemarin?” Semua mata benar-benar langsung tertuju teralihkan kearah suara yang baru saja mengucapkan kalimat tanya itu, Kayvan, dengan wajah tak bersalahnya seperti bertanya dengan matanya kearah muka-muka para saudaranya yang melihatnya dengan tatapan sedikit terkejut dan bingung, Kayvan tidak bersalah, pasalnya memang bukan dia yang mencari semua hal detail tentang Reyga, bahkan makanan yang disuka, dan tidak disuka, atau tempat kopi favoritenya Reyga saja ada didaftar yang diberikan Aidan tadi,
“Ah iya mas, SMP kebetulan aksel, terus SMA kemarin sih ikut test aksel juga,”
Kayvan menganggukkan kepalanya, membaca keterkejutan Reyga diwajahnya, “Affandra pernah cerita soalnya kalu kamu tuh aksel gitu,”
Affandra dan Aydan saling melempar tatap kala mendengar itu, Edhan dan Basudeopun juga melakukan hal yang sama, pasalnya diantara mereka belum ada yang sama sekali menceritakan tentang hal itu,
“Mau kuliah dimana nanti Rey?” ucap Davendra tiba-tiba dengan langsung mengalihkan tatapannya dari majalah yang menampilkan wajahnya disampulnya itu kearah Reyga yang saat ini mungkin sudah berkeringat,
“Mau ngambil jurusan hubungan international mas,”
“Dalam? Apa luar?” ucapan Davendra sukses membuat sebuah tanya besar ada pada wajah Reyga, “Maksudnya kuliahnya mau didalam negeri aja apa diluar negeri,”
“Oh belum tau sih mas, tapi mau didalam aja biar nemenin mamih juga,” ucapan Reyga terdengar ragu, tetapi sukses membuat Davendra menganggukkan kepalanya,
“Kamu anak tunggal ya Rey?” ucap Kegan tiba-tiba, padahal ia sudah tau semua data diri Reyga tapi ia melakukannya hanya untuk menambah perasaan penekanan pada Reyga,
Reyga menggelengkan kepalanya, “Ada satu abang cowo mas, anaknya bunda,” Reyga segera tersadar akan ucapannya, seharusnya ia tidak usah membicarakan itu,
Dayana yang mendengar itu langsung sedikit terkejut, dan mengalihkan pandangannya kearah Kayana yang hanya bisa mengangkat bahunya, menjawab wajah bertanya dari Dayana,
Sore itu dihabiskan oleh beberapa mas Dayana yang bertanya tentang Reyga dengan detail, membuat Dayana terlihat heran akan tingkah mereka,
Ailesh yang membaca raut wajah Dayana langsung mendekatkan dirinya kearah perempuan itu, “Gue bilang juga apa, Reyga suka sama lo. Buktinya kodam harimau para mas bentar lagi keluar nerkam nih,” Ailesh mengakhiri ucapannya dengan sedikit terkekeh