second chapter.


Alsava Dayana, mengetukkan kedua kakinya secara bergantian pada aspal yang ia pijak saat ini, langit kota kini telah mengisyaratkan akan ada hujan setelah suasana mendung yang telah bertengger dilangit hitam itu sedari tadi, pandangannya terus-terusan ia alihkan pada kedua kolom chat yang ia kirimkan tadi seraya mengalihkan juga sesekali pada seorang laki-laki paru baya yang berada disampingnya,

“Gimana pak? Masih belum bisa?”

Gelengan kepala yang pertama kali Dayana dapatkan atas pertanyaannya, “Belum bisa non, atau bapak panggil mas dirumah aja ya?”

“Eh jangan pak, nanti mas Deo malah kena, aku pake taksi aja kali ya pak?”

“Aduh non, udah agak malem ini, mending telfon orang rumah aja,”

Langkah kaki sepasang sepatu membuat Dayana mengalihkan pandangannya kesuara yang mendekat itu, “Dayana kan?”

Dayana dengan muka bingungnya mengalihkan pandangan kesapaan suara bariton yang memanggilnya, “Nah kebetulan sekali ada den Theo disini,” ucapan Pak Sardi, supir Dayana malam ini membuat dirinya semakin bingung diantara keduanya,

“Pak Sardi kenal?”

“Da atuh kenal non, kan den Theo ini sahabatnya den Aidan, sering main da kerumah, non gak inget?” Dayana langsung menggelengkan kepalanya menjawab pak Sardi,

“Ini kenapa pak?”

“Mogok den, tadi tiba-tiba mati, terus gak bisa distarter euy,”

“Udah coba telfon bengkelnya Aidan?”

“Ini udah nyoba dari tadi gak ada jawaban den,”

Theo, laki-laki berprawakan tinggi, dengan sedikit kurus dibanding Aidan, dengan rambut hitam melengkapi penampilannya yang kini memakai pakaian formal berwarna biru tua itu langsung mengetikkan beberapa hal ditelepon genggamnya dengan terburu, “Dayana sama gue pulangnya gapapa? Biar pak Sardi naik taksi, jadi pak Sardi juga bisa langsung pulang, gimana?” Theo mengakhiri kalimatnya seraya menengokkan kepalanya kearah Dayana,

“Hah? Ah gausah kak, aku nunggu aja bareng pak Sardi,”

“Ih non, gapapa, pulang weh sama den Theo, pak Sardi mah gampang,”

Theo tersenyum seakan tau dan paham apa yang Dayana sedang khawatirkan saat ini, “Tadi gue udah bilang Ayi kok kalo lo pulang sama gue, paling nanti dijalan kita sambil telfon mas lo itu aja ya, bengkel tempat biasa gue servis udah mau jalan kesini, jadi pak Sardi gak terlalu nunggu lama,” Theo terdiam sedikit menunggu kali saja perempuan bersurai kecoklatan ini ingin menjawab kalimat panjangnya tadi, “Pak Sardi nanti dijemput sama asisten saya ya, biar bapaknya gak ngeluarin ongkos juga,”

“Eh gapapa den sumpah ini mah, bapak mah bisa naik angkot,”

“Gapapa pak gak ngerepotin saya juga kok, kebetulan asisten saya juga lagi deket sini,”

“Dayana gimana?” ucap Theo dengan sedikit menengokkan kepalanya kearah Dayana yang masih memikirkan banyak hal itu,

“Yaudah kak, gue sama lo deh, pak Sardi nanti kalo udah dirumah kabarin saya atau bi Darmi ya,”

“Siap non,”

Kedua pasang laki-laki dan perempuan itupun masuk kedalam mobil Bentley continental Gt berwarna hitam milik Theo.