forty-sixth chapt. -

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, dan tepat sebulan sudah waktu berjalan setelah pembukaan agensi hiburan milik Davendra Argha,

Dayana yang sedang berkutat dengan tugasnya itu langsung terbangun kala melihat kearah jam yang ada dimeja belajarnya dan segera menguncir tinggi surai hitam miliknya, malam ini ia hendak menyiapkan makan malam bersama dengan kedua masnya itu, Aydan dan Byantara,

Kala ia membuka pintu dari kamarnya, ia merasakan hawa yang cukup asing didalam rumah ini, biasanya ketika waktu sudah menujukkan pukul 7 malam semua masnya itu sudah ribut berada dilantai bawah karena bersiap untuk makan malam, tetapi malam ini berbeda ia tidak mendengar suara apapun dari bagian bawah rumah ini, ruangan yang terdapat televisi, yang biasanya telah dinyalakan dan terdapat beberapa masnya didepannya itu masih dibiarkan mati dan tidak terdapat satupun masnya yang ada didepan televisi tersebut,

Ia segera berlalu memasukki dapur dimana tempat biasanya para masnya itu menyiapkan masakannya, dilihatnya kedalam dapur tersebut, hanya terdapat beberapa pekerja wanita yang sedang menyiapkan masakannya, tidak terlihat kedua masnya yang biasanya ikut membantu mereka, “Eh non, kok keluar?”

“Eh iya bi, kan mau bantuin,” ucapan Dayana hanya dibalas anggukkan oleh bi Darmi, selaku kepala pekerja wanita yang berada dirumah ini, “Bi, para mas kemana ya?”

“Eh aih non teh gak tau?” Dayana segera membalas ucapan bi Darmi itu dengan menggelengkan kepalanya, membuat bi Darmi tersenyum pelan, “Ini kan udah tanggal 31 non, biasanya mah kalo tanggal 31 november para aden sama tuan teh selalu ngurung diri dikamarnya masing-masing,”

Dayana tampak terkejut mendengar penyataan dari bi Darmi, ia sangat tidak tahu akan hal tersebut, pasalnya kedua saudaranya yang dekat sekali dengannya tidak memberitahukannya tentang ini, “Emang ada apa bi?”

Bi Darmi tampak bepikir sebentar sebelum setelahnya menghela napasnya dengan pelan, “Besok, tanggal 1 Desemberkan peringatan kematian para tuan dan nyonya besar,”

Napas Dayana tiba-tiba tercekat, ia benar-benar tidak tahu akan masalah sepenting ini,

“Da biasanya mah non, suara tangisan pedih pisan kedengeran sampe keluar, biasanya mah dari kamar den Kegan, den Alesh, den Anesh sama den Aydan,”

“Tapi biasanya juga henin kaya gini, tapi ya besoknya mah biasa lagi, mereka siap-siap ke makam biasanya mah,”

Dayanapun masih terdiam mendengarkan kala seseorang pemuda berpakaian sangat santai masuk dengan membawa beberapa bahan masakan, ia langsung keluar guna mengambil beberapa udara segar sebab terlalu terkejut mendengar fakta yang baru saja ia dengarkan.

Dayana berjalan berpas-pasan dengan beberapa orang yang sudah membawa beberapa bucket bunga besar, Dayana memperhatikan bunga-bunga tersebut, dan menghela napasnya, mengapa hal sepenting ini tidak Ailesh dan Avanesh beritahukan kepadanya,

Ia berjalan tanpa sadar sampai kearah area kolam renang dari rumah tersebut, disana ia melihat sosok laki-laki berpakaian santai dengan celana basketnya dan seraya mengapit sebatang rokok dan mengebulkan asapnya kearah sembarangan, ketika netra hitamnya berpasan dengan netra laki-laki tersebut, laki-laki itu langsung tersenyum lembut seraya mematikan sebatang rokoknya, dan menggerser tubuhnya, memberi ruang agar Dayana bisa duduk disampingnya itu,

Aidan Zavier, langsung tertunduk kala Dayana sudah berhasil duduk disampingnya, “Abis dari mana?”

“Dari dapur mas,”

Aidan pun tersenyum kala mendengar jawaban dari adik perempuannya itu, ia pasti tau jika adik perempuannya itu sudah mengetahui semuanya, “Maaf ya,”

“Maaf kenapa mas?” Dayana mengalihkan pandangannya kearah masnya itu dengan wajah bertanyanya,

“Maaf para masnya gak ngasih tau kamu kalau ada yang kaya gini, maaf juga kalo para mas jadi keliatan lemah,”

Dayana tersenyum lembut seraya mengaluhkan pandangannya kedepan, “Gapapa mas, mas kan semua juga manusia, wajarlah kalau ngerasa sedih,”

Aidan tersenyum, dan mengusap lembut surai hitam disampingnya itu, seraya mengecup lembut puncak kepala milik adik perempuannya, “Pinter, cantik mas pinter,” ucapnya, “Mas bingung sebenernya, kaya mas mikir seharusnya kan kita semua gak boleh terlarut sedih sedih terus, soalnya pasti mereka semua diatas sana juga ikutan sedih, tapi mas juga gak bisa ngapa-ngapain, coping mechanism setiap orang berbeda, kita kan gak bisa maksain apa yang kita suka dan apa yang kita mau ke orang lain, soalnya ya belum tentu kan apa yang kita anggap baik buat orang itu, dianggap baik juga sama orang itu,”

Dayanapun menganggukkan kepalanya, satu hal lagi yang ia pelajari dari salah satu masnya ini, selama beberapa bulan ia mengenal para masnya, banyak hal yang ia pelajari dari sikap dan sifat dari para masnya serta obrolan-obrolan singkat bersama para masnya.

Ia kembali menaikkan pandangannya kearah langit malam yang saat ini tengah ramai bertabur bintang, “Mamah? Papah? Ah aku gak tau mau nyebut apa, akhirnya besok kita ketemu ya,” ucapnya didalam hati dan pikirannya, ya, akhirnya besok ia bertemu dengan kedua orang tuanya itu.