forty-seventh chapt. -
Berpakain serba putih, para Kentara bersaudara kembali lagi kearea pemakaman mewah ini, seseorang laki-laki berahang tajam keluar dari dalam mobilnya, diikuti dengan seseorang laki-laki dengan mata berbentuk bulan sabit kala tersenyum itu dibelakangnya seraya menunggu, lalu melindungi kepala seorang perempuan berpakaian terusan serba putih yang akan keluar juga dari kursi penumpang belakang mobil bentley continental berwarna hitam milik Affandra,
“Pake, panas soalnya,” ucap Kegan kala telah berada disamping perempuan yang memang saat ini tengah berada disamping para saudaranya yang berpakaian tak jauh berbeda dengan dirinya,
“Yuk?” Ailesh dan Avanesh merangkul secara bersamaan Dayana pada pinggang dan pundaknya, lalu berjalan bersama mendekati makam para orangtua mereka,
Langkah yang tadinya ringan, semakin mendekat semakin terasa berat, satu persatu dari masnya ketika Dayana perhatikan semakin menundukkan kepalanya satu persatu,
Domicia tersenyum dengan lebar seraya menepuk pundak kembarannya berkali-kali yang sedang menunduk seraya mengusap matanya yang mungkin hendak mengeluarkan air matanya itu, pundak Arvel semakin berat kala satu orang berkaos putih dengan kacamata hitam yang bertengger diatas hidungnya tersenyum lebar pula, “Senyum bray senyum,”
Masing-masing dari mereka terdiam, beberapa orang ada yang memejamkan matanya, dan beberapa lainnya mengarahkan pandangannya kearah langit yang sedang cerah siang ini,
Dayana tertunduk, dalam diam, matanya kini tengah menahan genangan air mata yang berada memenuhi pelupuk matanya setelah melihat batu nisan bertuliskan, nama kedua orang tuanya, Kevin Hendra Kentara dan Irene Cassandra Mouviar, iapun langsung membelokkan badannya melihat kearah belakangnya, dan bertemu netra seorang Byantara dan Kegan yang saat ini telah menghadap kedepan dengan tersenyum, Ailesh yang merasakan perubahan mood dari Dayana langsung memeluknya diikuti oleh Avanesh yang langsung mengusap puncak surai hitam milik Dayana itu, ketika Kegan dan Byantara telah berada didepannya, Byantara langsung mencium puncak kepala dari perempuan satu-satunya diantara mereka, menyalurkan aliran kasih sayang yang ingin ia beritahukan kepada adik perempuannya itu, diikuti oleh Kegan melakukan hal yang sama,
Semakin lama Ailesh Reka merasakan bahunya telah basah, iapun mengeratkan cengkramannya dipinggang Dayana, seraya mencium dengan perlahan bahu yang berada didepan dadanya saat ini, “Sst its okay,”
Suara isakan semakin terdengar dari arah Ailesh membuat semua masnya langsung mengalihkan pandangannya kearah satu titik itu, Ailesh yang menerima tatapan para masnya langsung mengagukkan kepalanya tanda ia bisa menghandle perempuan yang berada dipelukannya itu, “Hey, mau ngobrol gak?” ucap Alesh membuat Dayana mengalihkan pandangannya kearah sampingnya, matanya langsung bertemu wajah Ailesh Reka yang tersenyum dan seraya mengagukkan kepalanya itu,
Dayanapun menggigit bibir bagian bawahnya, menunduk sebentar lalu setelahnya menghapus jejak air mata yang memang tadi sempat ia luapkan,
Ramadella menghampirinya lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang, diikuti oleh Davendra dan Kayvan lalu Domicia, Arvel dan Aidan yang memeluk seraya mengusap punggung dari adik perempuannya itu,
Merekapun satu persatu menjauh, meninggalkan Dayana yang masih ingin berbicara dengan pusara kedua orang tuanya itu, mereka memberi waktu perempuan cantik itu, berkenalan dengan kedua orang tuanya, yang telah lama tidak ia ketahui,
Dayana menghela napasnya, tak lama dorongan dari dirinya kembali mengakibatkan dirinya menahan air matanya lagi yang hendak lolos dari pelupuk matanya, “Maafin Day, Maafin Dayana yang baru ngenalin kalian, maafin Day yang baru bisa kesini ketemu kalian, maaf, mah pah, maafin Dayana,” Dayana semakin menundukkan kepalanya semakin dalam, isakan tangisnya semakin keras, pilu yang keluar bersamaan dengan suara tangis dan air mata itu terdengar sampai ketempat para masnya, satu persatu para masnya itu membalikkan badannya, membelakangi tempat dimana Dayana sedang berbincang dengan kedua orang tuanya yang memang pusaranya bersebelahan, beberapa dari mereka tak sadar air mata merekapun lolos kala melihat perempuan yang menjadi pusat semesta mereka semakin menundukkan kepalanya dengan bahu yang semakin bergerak bergetar dan suara isakan yang kian terdengar jelas,
Netra hitamnya menangkap kedua sosok perempuan yang sangat ia kenali, dengan masih berada didalam rangkulan Byantara dan Kegan disampingnya yang tidak berhenti mengusap punggungnya, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ailesh yang berada dibelakangnya, Byantara melihat sikap dari Dayana tersebut lalu mengalihkan pandangan kearah yang Dayana tatap sebelumnya, ia juga mengenali kedua orang itu,
“Tante,” ucap beberapa suara bariton menyapa perempuan cantik didepannya,
“Day,” suara panggilan itu sangat ia kenali, bagaimana tidak suara itu adalah suara dari seseorang yang telah menemaninya disaat-saat tersulitnya dahulu,
Domicia menghampiri Dayana, menundukkan dirinya sehingga pandangan netranya bisa tepat kearah netra hitam didepannya itu, menilisik kearah netra hitam perempuan itu lalu tersenyum, “Hei, its okay,” kala mendengar kalimat yang keluar dari suara Domicia, Byantara langsung mengusap lembut pinggang Dayana,
Dayana merasa saat ini dirinya lebih dari yang biasanya, merasa lebih kuat dan tenang dari sebelumnya, ia menatap kearah netra kecoklatan milik perempuan cantik didepannya, “Mami,” Dayana tersenyum kala menyapa perempuan didepannya, ia sangat tahu bahwa sahabatnya yang saat ini didepannya lah yang memberitahukan ibunya ini dimana ia berada sekarang, karena memang pasalnya tadi malam ia bertelepon dengan orang itu sampai larut malam, menceritakan apa yang ia alami kemarin malam.
Dan hari itupun menjadi hari dimana hubungan kedua perempuan yang sempat bersitegang itu kembali berubah lebih baik,
“Lega?” ucapan Basudeo langsung dibalas anggukkan dan senyuman oleh Dayana dan langsung dihadiahi dengan usapan lembut dipuncak kepalanya, “Pinter,”