forty-ninth chapt. -
Jalanan ibu kota semakin pada merayap sore ini, waktu telah menunjukkan hampir pukul enam sore, dan langitpun hampir mencapai puncak kegelapannya, Dayana beberapa kali menengok kearah sang pengemudi disampingnya dengan hoodie hitamnya dan mata yang sedikit bengkak tapi sudah tidak sembab itu, ia yakin masnya yang satu ini sedang tidak baik baik saja, apalagi ditambah kembarannya yang tadi mengirim pesan kepadanya bahwa dia harus memeluk masnya yang satu ini sangat erat,
Tiba-tiba lantunan suara jason mraz menyanyikan lagunya yang berjudul make it mine memecahkan keheningan, diusapnya layar yang ada pada smartphone yang diletakkan didepan sebuah layar kecil ditengah mobil itu,
“Halo, kenapa mas?” suara laki-laki yang ada disamping Dayana terdengar,
Makan malemnya pada mau mesen geprek aja katanya, kalian mau kan? Byantara, suara itu terdengar dari balik telepon yang tersambung dismartphone itu,
“Loh mas dirumah?”
Iya, buruan mau gak?
ucapan Byantara diabaikan sebentar kala Domicia langsung menatap Dayana dengan wajah bertanyanya, Dayana yang mengerti langsung membalasnya dengan anggukkan kepala,
Setelah mengucapkan persetujuannya Byantarapun langsung mematikan sambungan telepon itu, sebab tanpa diberitahu apa yang ingin mereka pesan, masnya itu sudah tau apa yang harus ia pesan untuk mereka berdua,
“Stop, staring at me like that,” Domicia mengucapkannya dengan masih menatap kearah mobil-mobil yang berbaris didepannya,
“Then tell me, whats going on? Mas Cia tumbenan sampe mau nungguin aku diparkiran, terus tiba-tiba mas Arvel ngechat gak jadi pulang sama kita,” ucap Dayana memelas tanpa menatap seseorang yang disampingnya itu, ia mengerti orang disampingnya ini sedang berperang dengan pikirannya,
Diantara para masnya, selain ketiga mas tertuanya, Domicia, dan Aidan lah sosok yang paling sering menahan semuanya sendirian, dan Dayana sebenarnya paling tidak suka hal itu, tapi ia juga tidak bisa memprotesnya,
Dayana tidak sadar mobil yang dilajukan oleh Domicia ini mulai memasukki plataran sebuah mall yang memang mereka lewati, hingga pada akhirnya mobil itu terhenti disalah satu basement yang dimiliki oleh mall tersebut,
Domicia cukup memperhitungkan semuanya, jika ia berhentikan mobil BMW hitamnya dipinggiran jalan, ia tidak akan tau apa yang akan menghampiri mereka nanti, karena terlalu bahaya, oleh sebab itu ia lebih memilih membayar parkir yang tidak seberapa itu, daripada harus membahayakan mereka,
Keheningan menyeruak didalam mobil itu, Dayana dengan tanpa mengintrupsi masnya, dan Domicia dengan pikirannya yang penuh,
“Mas, honestly, you don't have to tell me, i'm okay with that,” Dayana mengalihkan pandangannya kearah masnya itu,
Domicia yang mendengar itu langsung menatap netra hitam adiknya, netra yang selama 2 tahun terakhir ini menjadi tempat ia dan para saudaranya mencari ketenangan, netra yang selama 2 tahun terakhir ini selalu menyorotkan bahwa semua akan baik baik saja, Dayana tersenyum disana dengan lembut,
Merentangkan tangannya agar orang itu bisa masuk kedalam rengkuhannya, disana diatas bahu sempit tapi kokoh itu seorang Domicia menaruh kepalanya, seraya mengeratkan cengkaramannya pada tubuh gadis yang selama ia masuk kedalam keluarga mereka telah banyak menenangkan jiwa dan pikiran mereka yang selama ini banyak menyimpan beban dan luka,
Domicia merasakan kehangatannya lagi, merasakan apa yang mereka sebut tenang, lambat laun suara rintihan dihatinya semakin redam, bergantian dengan isakannya juga yang memelan, tapi usapan pada punggung yang seharusnya selalu kokoh itu masih setia bergerak,
Baru kali ini ia berpikir jika tuhan adil padanya dan para masnya, tuhan adil karna walaupun ia mengambil semua hal yang ada disemestanya saat itu, tapi ia juga mengantikannya dengan suatu hal yang tidak lebih jauh dari apa yang ia ambil, memang tidak sehangat pelukan seorang perempuan yang melahirkan mereka, tapi setidaknya mereka merasakan ketenangan dari hati seorang perempuan yang selama lebih dari 10 tahun tidak mereka rasakan.
Dayana turun dari mobil BMW hitam milik Domicia, diikuti oleh Domicia dibelakangnya setelah menyerahkan kunci mobilnya itu kepada salah satu pekerja dirumahnya, sorak sorak para saudaranya terdengar dari balik pintu besar coklat didepan mereka, mereka tau bahwa para saudaranya ini telah berkumpul, karena hari ini merupakan hari jumat, hari dimana biasanya mereka meluangkan waktu mereka setelah beraktifitas panjang selama beberapa hari kebelakang,
Dayana terkejut, kala tiba-tiba tubuhnya dirangkum oleh sosok yang lebih tinggi dari laki-laki dibelakangnya, seraya mengendus parfumnya yang mungkin telah hilang sejak siang tadi, “Mas kangen banget,” ucap suara bariton yang sedikit serak itu,
“Mas Kegan sakit?” Dayana mengucapkan itu seraya mengalihkan pandangannya kearah Byantara dan Affandra bergantian, dan ucapannya langsung dibalas anggukkan oleh mereka berdua,
“Demam ya? Istirahat aja deh,” ucapannya langsung dibalas gelengan kepala oleh seorang Kegan Ayundra itu, Dayanapun langsung menghela napasnya,
“Katanya kamu mau ngasih susuruprise?”
Dayana langsung memukul lengan bagian atas Kegan dengan pelan, seraya melebarkan pandangannya,
“IH KOK MAS KEGAN AJA YANG DIKASIH SURPRISE?”
“SURPRISE APA?!”
sebelum dirinya diserang oleh ke empat belas masnya itu ia langsung berlari keatas,
“DAYANA KOK KAMU KEATAS?”
“ADEK KOK GITU?!!”
“ALSAVA DAYANA”
Kini suara ketiga mas tertuanya ikut dalam kehebohan para saudaranya yang lain,
“IYA BUAT SEMUANYA, SABAR KENAPA! KALAU GAK SABAR GAUSAH IKUT!”
ucapan Dayana langsung membuat semua laki-laki yang tadi meneriakinya secara bergantian terdiam, mereka sibuk menebak-nebak dengan berbisik keantara satu sama yang lainnya.