forty-fifth chapt. -

Ramadella melihat tajam kearah tiga orang laki-laki dihadapannya, kini mereka berempat sedang berada diruangan Ramadella yang didominasi warna khas kayu itu, Ramadella menghela napasnya, “Mas makasih banget sama respon kalian yang cepet kaya tadi, tapi gak mengorbankan pendidikan kalian juga, paham gak? Arvel kuis buat tambah nilai uas, Aidan ujian praktikum buat uas, terus Deo juga mau pre-test mingguan kan? Kan ada Cia, ada Aydan sama Edhan juga, percaya sama mereka, mereka bisa jagain Dayana juga.” Ramadella menatap kearah ketiganya bergantian, sedangkan yang ditatap hanya bisa melihat kearah kaki mereka yang sudah terasa dingin akibat paparan dari angin air conditioner yang memang tidak tau mengapa sangat terasa dinginnya saat ini,

“Jangan lagi, Arvel kan udah mau ngambil double degree, Aidan juga mau test double degree kan? Deo dikit lagi juga test masuk universitas, kalian lagi di masa-masa penting kalian,”

Ketiga orang itupun menganggukkan kepalanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, setelah Ramadella menyuruh mereka keluar, merekapun langsung menghela napasnya yang sedari tadi ditahan oleh mereka,

Pintu kayu terbuka disana, menampilkan ketiga laki-laki yang tadi mengkhawatirkan seorang perempuan yang kini menatap mereka dengan merasa bersalah, “Mas, maaf...” ucapnya dengan lemah, yang langsung membuat ketiganya menghampirinya dan mengusap surai hitam milik perempuan itu secara bergantian,

“Gapapa santai, udah sana kamu masuk,” ucap Arvel, laki-laki yang memang paling tua diantara ketiganya dengan senyuman lesung pipinya membuat Dayana juga tidak sadar menampilkan senyumnya,

Dayana menghela napasnya sebelum memasukki ruangan tersebut, sumpah ia merasakan seperti akan diadili dipengadilan dengan tuntutan gantung mati, “Mas?” ucapnya dengan suara pelan, berhati-hati, netranya langsung bertemu dengan sepasang netra kecoklatan yang tajam,

“Mas, Dayana minta maaf udah buat khawatir...”

Ramadella menghela napasnya, ia sebenarnya tidak tega menghadapi adik perempuan satu-satunya ini dengan suasana yang tidak mengenakkan, “Mas boleh tau alesannya pre-test Dayana disobek kenapa?”

Dayanapun langsung menatap netra kecoklatan itu kala ia langsung mengingat peraturan yang pernah diucapkan oleh Ailesh tempo hari, Kalau ngomong sama mas Rama, mas Daven, mas Kayvan tatap matanya,

“Pre-test Dayana sama mas, sama Hana, temen sekelas Dayana, tapi sumpah padahal Dayana ngerjain itu sendiri bahkan barengan sama Alesh sama Anesh juga, tapi gak tau kenapa pas ngumpulin eh sama...”

“Dayana ngumpulinnya kapan?”

“Setelah istirahat makan siang, soalnya kan pelajarannya abis itu juga,”

Ramadella menghela napasnya, ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi, adik perempuannya ini menjadi korban kecurangan temannya, ia paham betul bagaimana temannya itu melakukan hal curang seperti yang Dayana ceritakan,

“Yaudah Dayana keluar sekarang,”

Dayana langsung mengalihkan pandangannya kearah Ramadella yang langsung berhadapan dengan senyum ramah dan anggukkan kepala seorang Ramadella membuatnya langsung menuruti apa yang Ramadella katakan,

Ramadella mengangkat handphonenya setelah mengetik sebuah nama dan mendialnya menuju panggilan telepon, “Cari tau tentang Hana teman sekelas Ailesh dan Avanesh, kalau udah keluarin sekarang, dan cari tau tentang guru yang namanya mrs. Murni juga. Kasih bukti kecurangan yang tadi saya udah kirim voice recordnya.”