first chapter.
Perempuan bersurai kecoklatan dengan sedikit bergelombang dibawahnya kembali terdiam dan melihat kearah cermin yang berada didepannya, perempuan itu tengah memikirkan kalau waktu sangat cepat sekali berjalan, karena tidak terasa tepat diumurnya yang ke 26 tahun ia telah menjadi seorang head of dept. produksi diproduction house milik salah satu masnya yang terkenal dengan senyum bulan sabitnya itu, ah dan juga masnya yang sangat benci akah buah strawberry,
“Dayana, kemarin lo- napa lu neng pagi-pagi udah ngelamun aja?” tanpa menolehkan kepalanya ia sudah tau siapa yang berbicara dibelakangnya itu, Ailesh Reka, kini berjalan mendekat menghampirinya,
“DAYANAA OH DAYANAA, minta parfume ya,” suara bariton lainnya yang dimiliki oleh laki-laki berwajah hampir sama dengan Aileshpun menyusul ikut menimbrung masuk kedalam kamar Dayana,
Ya, dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun ini kedua orang yang saat ini tengah sibuk dengan urusan masing-masing dikamar Dayana, memang telah terbiasa setiap paginya akan masuk kedalam kamar Dayana, tanpa permisi.
“Lo berangkat sama mas Byant kan? Atau sama-” ucapan Ailesh sengaja ia gantungkan karena ingin melihat reaksi dari saudara perempuannya itu, sang empu yang ditujupun hanya memutar malas kedua bola matanya, “Atau sama mas Edhan maksudnya, kan lo sekantor tuh kan” Ailesh mengakhiri ucapannya dengan kekehan jail khasnya,
Avanesh yang memang pemilik bariton kedua tadi itu hanya sibuk memilih parfume mana yang akan ia pakai hari ini, “Nesh belum kelar juga milihnya? Keburu mabok lo nyiumin parfume mulu,” ucap Dayana seraya merapikan rambut lalu memoles lipstick warna terakotanya diatas bibirnya itu,
“Pake yang ini ya bu,”
“Ih itu kan gak enak tau, Nesh,”
“Yah elo mah gue udah nyemprot lo baru bilang,”
“Lah kok salah gue? Salahin idung lo lah emang gak nyium wangi gaenak gitu,”
“Kok jadi salah idung gue sih?”
Perdebatan kecil menjadi background music kala Dayana merapihkan beberapa berkas yang akan dia bawa kali ini, “Udah belum? Gue mau berangkat nih,” ucapan Dayana itu sukses membuat kedua laki-laki yang berada dikamarnya dengan masih bertatapan tajam keluar terlebih dahulu dari kamar didominasi cat putih itu, lalu disusul oleh Dayana dengan beberapa berkas ditangannya seraya menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan kedua saudaranya yang ada didepannya dengan masih mendebatkan hal sepele.
“Danty!!!” suara riang khas seorang anak berumur 5 tahun menyambut Dayana kala ia telah memasukki area meja makan itu,
“Danty tadi tau gak sih masa Gio aneh banget gak mau makan sayur,”
“Kok aneh sih? Orang kata Omde aja kalau gak makan sayur gapapa kok,” ucapan dari anak laki-laki bernama Gio itu sukses membuat seluruh pasang mata orang dewasa dimeja makan itu menengok kearah seseorang yang disebut, Omde, atau kepanjangan dari Om Deo,
Basudeo yang merasa diperhatikan langsung mengalihkan pandangannya dari tablet pintarnya, “Apa sih?”
“Lo tuh kalo ngajarin Gio sama Cale tuh yang bener bisa gak sih?” Affandra mengucapkannya seraya menarik kuping sebelah kanan milik Basudeo yang membuat laki-laki dengan setelan kasual itu langsung mengaduh kesakitan,
Dayana yang sedang memperhatikan keributan disekitarnya hanya bisa sedikit tersenyum atau bahkan tertawa melihatnya, ah ngomong ngomong soal Gio dan Cale, mereka berdua adalah anak pertama dari seorang Ramadella dan juga Davendra,
Naragio Kaisar Kentara, atau yang biasa dipanggil Gio itu adalah putra kebanggaan Ramadella Ananta Kentara bersama istrinya, Jovanka Alya Permata, 6 tahun sudah mereka menikah dan telah 5 tahun pula mereka diberikan seorang putra kebanggaannya itu,
sedangkan Caleandra Vanco Kentara, atau lebih akrab dengan Cale, merupakan putra kebanggaan juga dari seorang Davendra Argha Kentara bersama dengan sahabat sedari awal karirnya, Arinda Lestari, 5 tahun menikah, dan 4 tahun sudah mereka mengurus dan menyayangi putranya itu,
Setelah kedua mas tertuanya, ada satu mas tertuanya yang lain yang memang lebih dahulu menikah dibanding para mas sebelumnya itu, yaitu Kayvan, telah 7 tahun menikahi kekasihnya Alana, tetapi mereka masih mengarungi pernikahan mereka dengan hanya mengisi kasih sayang satu dengan yang lainnya,
“Danty, kamu kok melamun?” ucap anak kecil laki-laki dengan kaus biru tua didepannya seraya menaruh telapak tangannya dipipi Dayana itu, “Mama said if you're in your bad condition, you can take a rest all day, Danty,”
Dayana tersenyum lebar kala mendengarkan ucapan dari keponakannya itu, “I'm okay Jagoan,” ucap Dayana seraya mengusapkan pelan telapak tangannya kearah puncak kepala anak laki-laki bernama Gio itu,
Rumah keluarga Kentara bersaudara masih terasa sama, masih tetap hangat bahkan bertambah ramai karena kehadiran beberapa tambahan anggota dari mereka, ya, ketiga mas tertuanya itu bersepakat akan terus tinggal dirumah ini sampai nanti para adik-adik kecilnya, yaitu Ailesh, Avanesh dan terakhir Dayana memiliki kehidupan pernikahan.