fiftieth chapt. -

Ada yang sangat berbeda malam ini, biasanya hingga pukul setengah 9 malam beberapa orang seharusnya hadir belum terlihat hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam, tetapi saat ini, dimalam ini, waktu baru menunjukkan pukul setengah 8 malam, anehnya semua orang yang seharusnya hadir itu sudah berada diposisi masing-masingnya, lengkap dengan beberapa camilan yang mereka bawa untuk mereka sendiri atau untuk dibagi ke yang lainnya,

“Hari ini gak ada yang ulang tahun kan?” suara bariton dari Aidan memecahkan keheningan membuat semua orang yang disana menengokkan kepalanya kearahnya, “Hehehe damai bray,” kala Aidan mengucapkan kalimatnya itu lampu yang semula menyala terang semakin lama semakin redup, dan gelap pun menguasai ruangan itu,

Sampai akhirnya lampu dari layar lebar yang ada didepan mereka menyala, menampilkan sebuah video dimana seseorang perempuan sedang menaikkan sebuah tirai khas dari sebuah cafe, lalu adegan selanjutnya terlihat perempuan itu membersihkan beberapa meja dari cafe tersebut,

Mereka yang berada diruangan itu tersadar bahwa perempuan yang ada divideo itu adalah perempuan yang selama hampir 3 tahun kebelakang ini menjadi kesayangan bagi mereka,

Beberapa adegan demi adegan muncul, menampilkan semua wajah satu persatu dari mereka yang berada diruangan itu seraya terlampir beberapa kata yang mungkin ingin disampaikan dari sipembuat video itu,

Satu demi satu beberapa orang yang wajahnya telah muncul menundukkan kepalanya, seraya masih mencuri pandang kelayar besar didepannya karena tidak ingin ada yang tertinggal, suara tarikan dari beberapa orang yang sudah hampir terisak itu menjadi backsound pendukung dari suara yang ada divideo,

Ke 14 orang yang berada divideo itu, membiarkan seluruh air yang terbendung dimata mereka sedari awal video sudah mengenang dipelupuk itu jatuh melewati pipi mereka masing masing, tanpa mereka tahan, dan mereka hindari, mereka membiarkan bulir air itu keluar menandakan mereka merasakan perasaan yang mau disampaikan dari orang dibalik video itu,

Satu demi persatu isakan tiba-tiba terdengar pelan, dan tiba-tiba membesar dari arah belakang, adik-adik kecil mereka, tanpa sadar membiarkan air mata mereka menguasai seluruh emosi mereka, hingga tidak tepikirkan sekeras aP mereka menangis, saling berpelukan,

Hingga akhirnya rentetan kata yang selalu dipegang oleh para Kentara Besaudara menutup video indah yang diberikan oleh pusat semesta mereka, hening, tidak ada yang bisa bersuara, semuanya larut dalam emosi mereka yang tidak mereka tahan, buliran air mata masih mengalir dibeberapa pipi dari mereka, tidak terkecuali.

Perempuan dengan piyama putihnya, dengan surai kecoklatan yang terurai berjalan mendekat kearah tengah dari ruangan itu, mereka menyadari mata sembab nan sedikit bengkak itu, ingin rasanya mereka semua langsung merengkuh tubuh mungil didepan mereka, tetapi mereka sadar bahwa acara yang dibuat oleh sipemegang kekuasaan saat ini di Kentara belum selesai,

Dayana berdehem sebentar, membersihkan tenggorokannya agar suaranya terdengar lancar, ia harap, “Emm.. Hai mas, hehehe,” suaranya sedikit bergetar, genangan air mata dipelupuknya kembali berkumpul, “Emm... aku buat video ini, karena jujur aku bingung mau ngasih apa ke kalian,” suaranya tercekat, dialihkannya pandangannya kearah langit-langit ruangan itu, agar airmatanya kembali pada tempatnya,

“Aku.. Aku tau ini bener-bener gak seberapa kaya yang kalian semua udah kasih, mulai dari semua fasilitas yang sekarang aku rasain, sampai ke kasih sayang kalian yang berlimpah, ak-aku,” Dayana menghentikkan dirinya sebentar, mengambil napasnya dalam-dalam, “Aku gak tau harus ngucapin makasih kaya gimana lagi ke kalian, aku bener-bener makasih kalian-,” Dayana menundukkan kepalanya, “Kalian udah baik banget sama aku, udah sayang banget sama aku, yang paling dasarnya kalian nerima aku dan percaya sama aku sepenuh hati kalian, ak-aku gatauuu,” kalimat terakhirnya sukses membuat Dayana semakin terisak, dijauhkannya pengeras suara yang tadi ia pakai, agar isakannya tidak terdengar, tapi ia salah, tanpa pengeras suara itupun isakannya terdengar oleh semua orang yang ada diruangan itu, punggung Dayana bergetar, semakin lama kedua kakinya tak bisa menahan tubuhnya lagi,

Ia meraskan lengan kokoh menahan tubuhnya sebelum tubuhnya jatuh menyeluruh kelantai yang dilapis karpet abu-abu tua itu, tidak hanya sepasang, tapi ada beberapa pasang yang menahan tubuhnya, sedikit demi sedikit ia buka matanya yang terpejam kala ia merasakan tubuhnya direngkuh erat oleh beberapa lengan itu, ia terkejut, para mas tertuanya lah yang merengkuh dirinya terlebih dahulu, lalu diposisi selanjutnya ada beberapa masnya yang menyusul memeluk satu sama lainnya,

“DAYANA, MAS AIDAN SAYANG BANGET SAMA DAYANA,”

“MAS DEO JUGA!!!,”

“BABY, ARVEL LOVE YOU,”

“IH BABY PANGGILAN GUE,” Domicia memukul lengan Arvel dengan kencang,

“Yaudah sih pinjem,”

“BABY, MAS CIA JUGA SAYANG KAMU!”

“KITA BEREMPAT SAYANG DAYANA,”

“KITA BERDUA LEBIH SAYANG DAYANA,”

“Gak perlu keras keras teriak, yang penting Dayana tau kalo mas Byantara Nanda Kentara sayang sama dia!”

“MAS KEGAN BAKAL BELIIN SELURUH DUNIA BUAT DAYANA,”

ucapan terakhir dari Kegan langsung membuat semua saudaranya tertawa, malam ini, lagi lagi, perempuan satu-satunya diantara mereka sukses menerbitkan senyuman lebar diwajah mereka tanpa terkecuali, dan membuat semua laki-laki yang ada disana merasa beruntung karena mempunyai perempuan yang kini mereka rengkuh secara bergantian satu demi satu,

Alsava Dayana Kentara, akan terus menjadi pusat semesta dari para Kentara bersaudara, apapun yang terjadi.